I Gede Gunada Eka Atmaja: Pelajaran Hidup Semua Dimulai dari Seni

Pada malam hari yang sejuk-segar ditabur hujan deras, sosok Gede Gunada terlihat tenang sambil hadir di acara pembukaan pameran lukisan Bali Artists’ Camp di Lodtunduh, Ubud, Bali.  Seniman asal Karangasem, Bali ini sudah mulai melukis sejak kecil, dan dari hobi itu Gede telah mendapat banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang berharga. Sebagai salah satu peserta Bali Artists’ Camp yang diadakan di dua lokasi, yaitu Northern Territory pada tahun 2015, Australia dan Karangasem, Bali pada tahun 2016, pelajaran hidup Gede Gunada justru menambah. Bersama dengan delapan seniman lainnya asal Australia, Jepang dan Indonesia, pada tahun 2015 Gede dikirim ke Australia untuk mengalami pemandangan alam dan suasana baru, meraih ilmu sambil berkolaborasi dengan seniman pribumi Australia. Bagaimana kisah seniman sederhana ini saat dia berkarya di tengah gurun Australia?

IMG_9684

 “Bali Artists’ Camp adalah sebuah pengalaman yang sangat berpengaruh bagi saya,” kata Gede. “Di Australia, saya sebenarnya merasa seperti kita kembali ke Bali yang masa lalu, berkarya di alam lepas, dikelilingi tanah luas dan banyak binatang liar,” imbuhnya. Dengan dukungan pemerintah Northern Territory, kelompok seniman diajak berkiling alam lepas Australia untuk mencari inspirasi. Pada malam hari, mereka berkemah di padang gurun dan di situlah mereka melukis, terinspirasi oleh kenangan yang dibawa dari jalan siang hari.

Melihat hasil yang menjanjikan dari Bali Artists’ Camp 2015, pada tahun 2016, Gede diundang kembali untuk berpartisipasi dalam Camp tersebut yang kali ini diadakan di Karangasem, di sebuah lokasi dekat desa asal dia. Dalam bayangan Gunung Agung, diiringi kehijauan hutan lebat, pasukan seniman berbeda negara ini mulai bergerak, mencuri pemandangan alam sehingga membuahkan hasil lukisan masing-masing. Dalam suasana pagi yang mendung, Gede bekerja cepat dan dalam 2 jam sudah berhasil menerjemahkan pemandangan Gunung Batur ke dalam bentuk lukisan akrilik.

Gede Gunada merupakan seniman yang sudah mulai aktif sejak kecil. “Sayang sekali hasil gambar saya waktu kecil tidak ada karena semuanya saya lakukan dengan coret-coret di tanah atau di tembok,” kata Gede. “Saya memang fokus melukis dari sekolah dan semua pelajaran saya mulai dari kegiatan seni. Misalnya, saat hendak melukis tubuh manusia, kita harus belajar anatomi,” imbuhnya. Untuk Gede, dunia seni adalah dunia bermain, bermain perasaan dan keterampilan dengan media. “Dari bentuk, warna, garis dan media, saya bisa mengekspresikan diri. Kita bisa melukis saat marah, bahagia atau sedih,” ujarnya. Untuk Gede, seni merupakan salah satu jalur untuk belajar, memperluas wawasan, berkomunikasi dengan alam dan juga bersosialisasi. Bali Artists’ Camp menjadi kesempatan yang sangat patut untuk seniman seperti Gede Gunada.

Advertisements

Kisah Seniman Suryani: Menjelajahi Gurun Australia Melalui Misi Kesenian

Setiap seniman mengalami proses perkembangan masing-masing. Ada yang sejak lahir sudah tahu bahwa dirinya akan menjadi seniman, biasanya berkat darah seni yang mengalir dari orang tuanya. Juga ada yang awalnya belum menyadari bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk berseni, dan hanya kemudian pada usia dewasa mereka baru mengenal kemampuan itu. Untuk Nanik Suryani, yang sudah terbiasa menjalankan hidup sebagai seorang pegawai kantor, satu demi satu dia mulai menyadari bahwa hatinya memiliki dunia seni, bukan dunia perkantoran. Sekarang pelukis asal Banyuwangi ini sangat aktif berkarya sampai dipilih untuk turut serta dalam Bali Artists’ Camp 2015 dan 2016 yang diadakan di Northern Territory, Australia dan kemudian di Karangasem, Bali.IMG_9653

Mulai pada tahun 2006, Suryani menjalani proses pembelajaran melukis sendiri di rumah. Setelah membaca buku berjudul, Everyone Can Draw, niat Suryani untuk menjadi pelukis semakin meningkat. Apa lagi dengan hidup di Bali dalam lingkungan kesenian, olah kreativitasnya justru tumbuh dan berkembang dengan subur.  “Akhirnya saya mengadakan solo exhibition pertama di Ginger Moon Restaurant di Seminyak, Bali pada tahun 2013,” katanya. Seiring berjalannya waktu, diri dan lukisannya semakin terikat. “Awalnya saya masih bertahan kerja kantoran tetapi dengan melihat potensi saya dalam dunia kesenian, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor dan fokus kepada melukis saja,” imbuhnya.

Bali Artists’ Camp yang diadakan di daerah gurun Northern Territory, Australia pada tahun 2015 merupakan suatu pengalaman yang luar biasa untuk Suryani. “Itu pertama kali saya ikut dalam kegiatan art camp seperti itu apalagi dengan melakukan camping di tengah hutan. Saya tidak hanya mendapat teman baru dari Australia dan Indonesia tetapi juga dengan melukiskan pemandangan baru dan belajar style baru dari pribumi Australia, hasil seni saya berubah dan berkembang,” ujarnya.

17757112_657661554421567_4628875691892641375_nPada Artists’ Camp 2016 yang diadakan di Bali, Suryani turut serta berkeliling Bali dengan para peserta lain mencari lokasi dan lingkungan yang inspiratif. Saat keliling Pura Dalem Segara Madu, Desa Jagaraja, Singaraja Suryani berkesempatan menemukan dua buah patung yang menarik perhatiannya dan memadukan dua patung yang sebenarnya terpisah itu dalam kanvas. “Dengan menggunakan style Consensusism, saya bermain dengan elemen bentuk, cahaya dan warna di kanvas,” katanya. “Saya juga terpengaruh oleh pengalaman saya waktu di Australia, saat saya belajar cara melukis langsung dengan seniman Aborigin. Sekarang saya bereksperimentasi dengan style lukisan Aborigin yang bercak bintik-bintik,” ujarnya sambil menunjuk detail lukisanya. Nanik Suryani telah membuktikan bahwa tidak ada kata “terlambat” dalam bidang kesenian. Dengan giat untuk terus berkembang, mencari inspirasi, dan bereksperimentasi, tidak ada batasan umur untuk bergerak di bidang seni.

“Ibu Budi” Hidup Kembali dalam Lagu Anak-Anak di Australia

img-20161205-wa0001“Ini Ibu Budi” adalah sepenggal kalimat yang pasti bergema di ingatan sebagian masyarakat yang bersekolah pada jaman 80-90an. Dengan keinginan memotivasi anak-anak dan para pelajar bahasa Indonesia di Australia untuk mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia, Wenny Bekti Sunaharum bersama dengan suami, Johan Ramandias telah berhasil melestarikan kalimat itu dalam bentuk lagu anak-anak berjudul “Ini Ibu Budi.” Lagunya disertai dengan video klip resmi yang disyut di lokasi alami di lingkungan University of Queensland, Australia dan didukung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia, Canberra dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Sydney. Video klip Ini Ibu Budi baru dirilis pada bulan Januari ini dan bisa diakses oleh siapapun di seluruh dunia lewat situs YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=G90lK6bdtgk. Bagaimana ceritanya Wenny mewujudkan idenya sampai menjadi kenyataan?

img-20161205-wa0006

Ide dan konsep untuk lagu Ini Ibu Budi muncul pada akhir tahun 2015 menjelang tanggal pengajuan disertasi S3 (doktoral) Wenny di University of Queensland. Tujuan Wenny dalam menciptakan lagunya tidak hanya untuk menghibur anak-anak Indonesia tetapi juga untuk mempromosikan pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia. Ungkapan “Ini Ibu Budi” yang dipilih oleh Wenny disumberkan dari  metode belajar Bahasa Indonesia yang dipopulerkan oleh Ibu Guru Siti Rahmani Rauf (Bunda Siti) di era 80-90 an. “Saat ingat bahwa sewaktu SD buku Ibu Budi sangat membantu saya dalam belajar membaca Bahasa Indonesia karena cara mengejanya mudah diikuti dan diingat. Almarhumah Bunda Siti meninggal pada Mei 2016 dan saya ingin memberikan penghargaan juga kepada beliau lewat lagu ini,” kata Wenny.

 “Saya dan suami melihat kurangnya hiburan khusus termasuk lagu untuk anak-anak di tanah air. Kami juga punya anak-anak yang nantinya akan membutuhkan hiburan yang pas untuk usianya serta memiliki muatan yang memotivasi dan membawa keceriaan,” tutur perempuan asal kota Malang ini. “Kami percaya lagu dan musik itu adalah bahasa universal karena pada dasarnya manusia itu menyukai lantunan nada-nada yang indah,” imbuhnya. Karena itu, dari rumahnya di Brisbane, Australia, sejak tahun 2014 Wenny dan Johan memulai membuat lagu-lagu khusus anak-anak dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sejauh ini, di sela-sela waktu, mereka sudah membuat sekitar tiga lagu anak, diantaranya adalah lagu Ini Ibu Budi.

12341548_10206906719940833_2731797475235106645_n

Wenny bersama dengan anak kembarnya, Sasya dan Wahyu di Australia

Mulai dengan merekam suara sendiri di HP ketika pulang kantor, di bis atau saat senggang, Wenny mencoba untuk mencari-cari nada yang sederhana, mudah diikuti dan diingat oleh semua kalangan khususnya anak-anak. Lagunya direkam bagian per bagian dan akhirnya disatukan pada pertengahan tahun 2016. “Berkat bantuan dan masukan dari suami saya, Johan yang juga senang bermain musik, maka aransemen lagu kombinasi keroncong dangdut dan musik tradisional dapat diselesaikan pada akhir tahun 2016,” kata Wenny. Lagu bahasa Indonesia ini bertepatan juga dengan perencanaan pembukaan Balai Bahasa Indonesia di Queensland. “Kami sangat berterimakasih atas dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia, Canberra dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Sydney” kata Wenny.

img-20161205-wa0010

Untuk konsep video klip, Wenny juga membuat bersama suami di waktu senggang. “Kami ingin memunculkan unsur tradisional dan budaya Indonesia yang mewakili dari Sabang sampai Merauke serta memberikan apresiasi kepada para musisi dan seniman termasuk penari tradisional,” jelasnya. Beberapa pelajar Bahasa Indonesia asal Australia dari University of Queensland juga ikut berpartispasi dalam rekaman suara dan syuting. Mereka diharapkan menjadi pionir dan juga sumber motivasi untuk pelajar asing dalam mempelajari Bahasa Indonesia.

Wenny tidak hanya dapat dukungan dari suami saja tetapi dari keluarga dan masyarakat dalam proses syuting dan produksi video klip, termasuk Gelora Indonesia, Pojok Indonesia, Sendok Garpu by Bunda Alicia untuk konsumsi, Ferny Grove State High School sebagai penyedia pakaian adat Indonesia dan The University of Queensland yang menyediakan lokasi syuting. “Total tim dan pendukung lagu dan video klip ini sekitar 65 orang. Jadi, ini adalah karya bersama kami semua,” jelasnya.

15326457_10209771686003194_8037838628924404713_n

Saat mengambil pakaian adat dari SMA Ferny Grove

Walaupun tidak mudah untuk mengurus banyak orang apalagi banyak anak-anak, menurut Wenny, kuncinya adalah perencanaan yang matang, komunikasi yang baik, kesabaran serta konsistensi untuk mencapai tujuan. “Saya menyadari semua teman-teman dan anak-anak juga super sibuk dengan berbagai urusan jadi untuk per-scene dan waktu harus dirancang dengan baik,” jelasnya. Pembagian tugasnya juga harus jelas termasuk harus ada plan B atau C misalnya karena mood anak-anak tidak stabil dan cuaca yang sangat panas. Jadi juga harus fleksibel serta pandai-pandai mengambil momentum,” imbuhnya.

img-20161205-wa0002Selain dari suaminya, musiknya juga didukung oleh unsur kendang dari Efiq Zulfiqar serta seruling Sunda dari Efendi Jaenudin. Penyanyi dan vokalis pendukungnya juga melibatkan cukup banyak orang termasuk Agustinus Timotius, Jane Ahlstrand, Rachmania Puspa Wardhani, Tri Mulyani Sunarharum, Annie Pohlman, Steph Pearson, Melanie Kilby, Sunarsedyono, dan Agustinus Yogiyono sebagai dalang. Video klip digarap oleh Sanjaya Tjhia dan melibatkan banyak model termasuk penari (Jane Ahlstrand, Tri Mulyani Sunarharum, Ruby Izzati & Keiloka Kirana Wahyudi), make-up artist (Esti Rahayu Sunarharum), anak-anak dan komunitas Indonesia di Brisbane.

Kameramen yang terlibat ada dua orang yaitu Sanjaya Tjhia (Jay) dan Johan Ramandias. Keduanya juga berpengalaman dalam membuat video klip/film dan video editingnya digarap oleh Jay. “Saya sangat berterimakasih kepada Jay yang dapat mengerjakan video klip ini dalam waktu yang sangat terbatas, dan juga tentunya sangat berterimakasih kepada keluarga, teman-teman serta semua pihak yang turut berpartisipasi” kata Wenny.

img-20161205-wa0021

Soft launching dilakukan pada tanggal 4 Januari 2017 di kediaman warga Indonesia di Brisbane dan menerima respon yang sangat menjanjikan. Karena lagunya disembahkan untuk Balai Bahasa Indonesia, Queensland dan pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia, video diserahkan penuh kepada KBRI, Canberra dan KJRI, Sydney. “Semoga dapat bermanfaat untuk kegiatan promosi Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah di Australia dan mendukung Balai Bahasa Indonesia,” kata Wenny. “Ada beberapa sekolah di Australia yang juga sudah meminta video ini karena akan digunakan dalam perkenalan pelajaran Bahasa Indonesia kepada murid-murid di Australia,” imbuhnya. Wenny dan tim tentunya juga akan sangat bahagia sekali jika seandainya Bapak Presiden Jokowi melihat serta menikmati lagu dan video klip Ini Ibu Budi.

Menurut Wenny, “Bahasa Indonesia adalah Bahasa nasional yang digunakan untuk mempersatukan bangsa Indonesia dari berbagai suku bangsa. Mempelajari Bahasa dari suatu negara adalah salah satu upaya untuk menghargai bangsa dari negara tersebut. Saya percaya bahwa saling mempelajari Bahasa dan budaya dari berbagai negara adalah jembatan yang dapat mempererat hubungan serta komunikasi antar bangsa, termasuk antara Indonesia dan Australia.”

 

Ternyata, Wayang Kulit Juga Digemari Rakyat Australia

15780908_10155770020322575_8617545914975231093_nWalaupun sudah tinggal di Australia lebih dari 10 tahun, niat Agustinus Jogiono untuk melestarikan budaya Indonesia di luar negeri tidak pernah habis. Pada akhir tahun 2016, pria asal kota Jogjakarta itu memberanikan diri untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat Australia dalam bentuk pentas wayang kulit perdana di Woodford Folk Festival, salah satu festival kebudayaan rakyat terbesar di Australia. Ternyata, minat masyarakat Australia terhadap seni tradisional Jawa ini cukup tinggi sampai pertunjukan wayang kulit di Woodford dikerumuni para penonton. Bagaimana proses persiapan dan pengalaman saat Agustinus membawakan pentas seni budaya Indonesia di Australia?

Dengan giat sendiri, Agustinus mulai proses persiapan dengan mengumpulkan koleksi wayang terbuat dari kardus yang dia beli dulu di Jogjakarta sambil membentuk sebuah cerita yang akan dibawakan. “Cerita atau lakon yang saya pilih bersumber dari cerita Ramayana,” kata Agustinus yang akrab disapa Yogi. Karena itu, untuk melengkapi koleksinya yang masih cukup sederhana, Yogi harus membuat dan melukis sendiri beberapa tokoh wayang tambahan termasuk Dewi Sinta, Jatayu, dan Sarpakenaka. Tidak berhenti di situ, Yogi juga membuat peralatan busur panah dan anak panahnya, pedang, gunungan dan bahkan bingkai untuk menggantung kain geber.

Untuk musik pengiring pertunjukannya, Yogi berkolaborasi dengan dua seniman Indonesia asal Sunda yang tinggal di Australia, yaitu Efiq Zulfiqar dan Efendi Jaenudin. “Musik atau gamelan yang mengiringi memang bercorak musik Sunda dengan menggunakan siter, rebab, kendang, gong, saron, dan seruling,” kata Yogi. “Cukup Indah perpaduan music Sunda dan pewayangan gaya Jawa-Jogjakarta. Berkolaborasi dengan seniman lain sangat menyenangkan karena satu sama lain mau belajar dan mengajari,” imbuhnya.

15826769_10155770017662575_5113941832421333830_n

Setelah latihan berbulan-bulan, akhirnya mereka memulai perjalanan ke Woodford. Woodford Folk Festival merupakan salah satu tempat bagi para seniman, musisi dan penari untuk berbagi beberapa jenis kesenian dengan para penonton dari berbagai latar belakang dalam beberapa tatacara. “Pengunjung yang hadir bisa untuk mengeksplore semua kegiatan yang ada seperti seni, kuliner serta cinderamata,” kata Yogi. “Yang hadir adalah orang-orang lokal maupun internasional yang datang untuk melihat dan menikmati kegiatan yang ada,” imbuhnya.

Di sana, pentas wayang kulit bernuasa Sunda itu ternyata diterima baik oleh para penonton. “Pengalaman pentas pertama sangat menyenangkan. Kami pentas tiga kali dalam tiga hari yaitu tanggal 28, 29 dan 30 Desember dengan durasi pentas 30-45 menit,” jelasnya. Menurut Yogi, respon dari penonton sangat bagus dan antusias. “Hal itu bisa diketahui sebelum pertunjukan mulai. Kursi sudah terisi penuh. Para penonton bertanya dan mendekat untuk melihat secara detail apa itu wayang, bentuk dan warnanya,” jelasnya.

Menurut Yogi, tujuannya dalam pentas wayang kulit adalah untuk melestarikan budaya Indonesia di luar negeri sambil menghibur orang lain. “Sumber motivasi saya berasal dari kesenangan untuk berkesenian. Saya senang karena bisa mempromosikan media wayang. Apalagi di Brisbane, selama tinggal di sini jarang kami bisa melihat pertunjukan wayang,” katanya. “Saya harap seni budaya Indonesia, khususnya dalam hal ini Jawa bisa dikenal oleh masyarakat luas di Australia,” imbuhnya.

Walaupun Yogi tidak pernah belajar seni pedalangan secara akademik, karena sejak kecil sudah senang melihat wayang, bisa mulai menangkap dasar dan pengetahuan dari situ. “Selalu ada rasa senang d­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­an tertarik kalau melihat pertunjukan wayang. Nah, disitu saya belajar!” kata Yogi. “Kebetulan dimana saya bekerja, ada bangunan yang dinamai Balai Budaya, disitu ada seperangkat gamelan dan wayang yang bisa untuk berlatih,” imbuhnya.

Mengenal Efiq Zulfiqar, Seniman Sunda yang Berkarya di Negeri Kanguru

son

Efiq merayakan kemerdekaan RI dengan anak bungsu

Siapa menyangka di sebuah kota satelit sepi dekat Brisbane, Australia tinggal seorang seniman Sunda hebat. Caboolture, yang sebenarnya lebih terkenal untuk ladang strawberi daripada keseniannya sudah menjadi “rumah kedua” untuk kang Efiq Zulfiqar semenjak tahun 2005. Di Australia Efiq mengejar cita-citanya sebagai seniman dan memperkenalkan keindahan musik Jawa Barat sambil berkolaborasi dengan para seniman lain dari berbagai latar belakang. Setelah lebih dari 30 tahun berturut-turut bergerak di bidang seni, Efiq masih mempunyai keinginan kuat untuk terus berkarya dan belajar.

 Lahir di Purwakata, Jawa Barat, Efiq menghabiskan masa remaja di kota Bandung. Berkat darah seni kental yang diwariskan oleh kedua orang tuanya, Efiq mempunyai keterarikan terhadap seni “apapun bentuknya” dari usia muda. Waktu duduk di sekolah SMP dan SMA ketertarikan Efiq terhadap seni musik mulai bersemi. Dia berhasil menguasai gamelan degung, kecapi suling dan kendang. Efiq juga mengumpulkan “jam terbang” dengan pentas di acara pernikahan atau acara resmi lainnya di sekitar kota Bandung.

 unspecifiedaSetelah lulus SMA pada tahun 1989, Efiq memutuskan untuk melanjutkan pelajaran musiknya di ASTI Bandung. Setelah menyelesaikan studi diploma di ASTI, keinginan Efiq untuk belajar musik lebih dalam bertambah kuat. “Meskipun banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan di sana, ternyata saya merasa masih belum cukup. Kemudian saya melanjutkan studi ke STSI Denpasar, hingga lulus tahun 1997,” jelasnya

 Berbekal gelar Sarjana Seni, Efiq mulai mengembangkan sayapnya dan bergabung dengan beberapa group musik di Indonesia seperti Idea, Zithermania, Jugala All Star, Sambasunda dan Krakatau. Tidak lama lagi, Efiq mulai membawa musiknya ke luar negeri.  “Pada waktu bergabung dengan Krakatau, saat itulah pengalaman pertama saya ke luar negeri. Negara pertama yang saya kunjungi adalah Australia. Waktu itu kita pentas di Manly Jazz Festival di Sydney tahun 1997,” kata Efiq. “Kemudian tahun 2000 di Cannes Perancis dan kita tour lagi ke Australia di tahun yang sama,” imbuhnya. Setelah bergabung dengan Jugala All Star dan Sambasunda, Efiq tour ke beberapa negara di Eropa dan Asia.

unspecified

 Pengalaman di luar negeri itu menjadi sangat berguna bagi Efiq sehingga semakin kuat niatnya untuk bergabung dengan seniman di panggung Internasional. “Selain bisa berekspresi sebagai musisi, saya juga bisa mengapresiasi musisi-musisi dari berbagai negara,” jelasnya. Saat itu, Efiq juga bisa menuangkan ide-ide dengan menulis komposisi musik. “Beberapa komposisi yang saya tulis di antaranya, Mandeh Lah Ondeh, Sweet Talking With Oling, Sisidueun, Kool n’ Trunk, Janari Kecil, Bentol Soca, dan Ronggeng Imut,” kata Efiq.

 Sebelum memilih untuk tinggal betah di Australia, pada tahun 2002 Efiq diundang sebagai Musician in Residence oleh yayasan AIAA untuk mengajar gamelan di community group dan sekolah-sekolah di Australia. Di Australia Efiq memainkan alat-alat musik tradisional, sekaligus mempromosikan kekayaan seni dan budaya Indonesia. Dia juga148758_3693683071855_274253574_n melakukan workshop gamelan dan konser ke sekolah-sekolah di beberapa tempat di Australia. “Pada tahun 2005, akhirnya saya memutuskan untuk hijrah ke Australia, bukan hanya karena alasan keluarga saya, tetapi juga banyak sekali gamelan group di sini yang membuat saya semakin betah,” kata Efiq.

 Semenjak tahun 2002, Efiq sudah berhasil berkolaborasi dengan beberapa grup masyarakat dan musisi di seluruh Australia termasuk Sydney, Gosford, Byron Bay, Toowomba dan Brisbane. Bukan hanya dengan musisi dan grup asal Indonesia tetapi juga dengan musisi asli Australia dan India. Efiq juga berhasil membuat musik ethic fusion yang memadukan musik elektronik dan tradisional.

 Dengan pengalaman yang sangat luas baik di dalam negeri maupun di luar, Efiq sudah menjadi cukup familiar dengan proses berkolaborasi. Efiq menjelaskan proses ini secara rinci, “Biasanya diawali dengan perkenalan atau rekomendasi dari teman atau sesama musisi. Setelah itu pertemuan music atau jam session. Disaat jam session itu, muncul ide-ide atau gagasan baru yang dituangkan dalam kolaborasi musik.” Untuk Efiq, saat menarik terjadi jika masing-masing seniman memainkan berbagai macam alat musik dari latar belakang budaya yang berbeda. “Itu bisa menghasilkan seni pertunjukan yang unik dan menarik. Di samping itu, kita saling bertukar ilmu dan pengalaman,” imbuhnya.unspecifiedab

 Efiq juga menyadari bahwa ada manfaat sosial besar yang bisa diperoleh dari kegiatan kolaboratif seperti ini. “Secara tidak langsung kita bisa mempererat hubungan antara Indonesia dan Australia. Seperti ada pepatah mengatakan, Tak kenal maka tak sayang. Artinya kalau kita mengenali seni dan budaya Indonesia, maka kita semua harus menyayangi, menjaga dan juga melestarikanya,” kata Efiq.  “Sampai sekarangpun saya masih belajar dan mengenali sesuatu hal yang baru,” imbuhnya.

daughter

Bermain suling bersama anak sulung

 Sebagai seniman yang dilatih dari usia muda, Efiq mengakui bahwa peran orang tua sangat penting dalam mendidik generasi muda untuk mencintai tradisi dan seni budaya Indonesia.  “Supaya tidak lupa sejarah dari mana kita berasal untuk bekal masa depannya,” kata Efiq. Dia juga mengharapkan anak-anak yang sudah terlihat berbakat dari usia kecil terus dilatih, diarahkan dan dikembangkan. “Semakin tumbuh besar, maka semakin terlihat bakat atau kemampuan individunya dalam bermain musik. Semakin rajin berlatih, semakin bagus hasilnya,” katanya. Efiq juga menyadari bahwa ada manfaat secara psikologis ketika anak-anak bermain musik, “Musik adalah terapi yang bisa membuat anak senang atau gembira. Kegembiraan dan kesenangan itulah yang membuat si anak terus memainkan alat musik, menyanyi dan sebagainya. Kalau si anak sudah senang melakukannya, akan lebih mudah untuk mengarahkan, melatih dan mengembangkannya.”

 Efiq mempunyai harapan besar untuk masa depan bidang kesenian di Indonesia maupun di Australia, “Mudah-mudahan dunia seni pertunjukan semakin maju, inovatif dan berkembang sesuai kemajuan ilmu dan teknologi, tanpa meninggalkan budaya aslinya,” katanya. Efiq percaya bahwa dunia modern dan tradisi dapat dipadukan tetapi harus dilakukan dengan rasa peduli terhadap tradisi, “Karena eksistensi seni pertunjukan modern tanpa seni dan budaya tradisi akan kehilangan makna esensialnya sebagai falsafah hidup berbudaya.”

family

Bersama keluarga Efiq yang benar berbakat di Caboolture

 Untuk info lebih lanjut tentang kang Efiq, silakan kunjungi: www.efiqzulfiqar.com

Gede Eka Riadi: dari menari saya merasa punya sesuatu lebih dalam diri saya

374813_2038529861273_2033217497_nMenjadi seorang seniman memang harus sabar, tabah, dan berjiwa besar. Dengan sikap idealis, sayangnya, tidak banyak seniman mempunyai karir yang baik dan stabil, apalagi yang bisa meraih sukses di kancah internasional. I Gede Eka Riadi, seorang penari Bali yang lahir dari keluarga sederhana di Desa Kapal, Mengwi, Bali, tidak pernah ada kepikiran bahwa dia bisa menempuh karir sebagai penari profesional, apalagi di luar negeri. Namun, berkat sikap jujur, kerja keras dan dukungan guru, keluarga dan teman-teman, Gede telah berhasil dipilih untuk menjadi seorang duta seni budaya Indonesia di luar negeri. Sekarang Gede bekerja sebagai Cultural Officer di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra, Australia.

Gede menghabiskan masa kecil di tengah suasana pedesaan. “Bapak saya bekerja sebagai penjahit baju adat Bali yang sehari-harinya dibantu oleh Ibu,” kata Gede. Hidup di desa dengan penghasilan orang tua yang pas-pasan membuat Gede harus berjuang membantu orang tua supaya bisa memenuhi kehidupan keluarga. Karena Ibunya mengalami gangguan kesehatan yang cukup berat, Gede harus membantu Bapak untuk membeli perlengkapan kebutuhan alat jahit baju. “Kita harus hidup irit, kemana-mana jalan kaki, dan kadang saya harus ikut membatu Ibu mencari kayu bakar serta kelapa jatuh di hutan untuk kemudian dijual,” kata Gede.

img_2524 Gede pertama kali belajar tari Bali semenjak duduk di bangku kelas 3 SD di Sanggar Yudhistira, salah satu sanggar tari tradisional di desa Kapal di bawah asuhan guru Anak Agung Sudarma. “Pada waktu itu Bapak saya menawarkan kepada saya apakah saya mau ikut belajar tari di sanggar, karena Bapak saya melihat saya senang menari. Ketika saya mendengar suara gamelan, tangan dan kaki saya mulai bergerak sendiri,” jelasnya. Waktu pertama kali diberikan kesempatan untuk belajar tari Bali secara resmi, Gede mengalami perasaan nikmat yang luar biasa, apalagi dengan banyak sekali jenis tarian Bali yang dapat dipelajari di sana.

 Belajar tari Bali memang menjadi sumber kesenangan bagi Gede. “Entah kenapa saya suka tari Bali. Di keluarga saya tidak ada yang hobi menari. Kata Ibu saya, ada keturunan darah seni di keluarga kami yaitu Almarhum kakek saya.” Di sanggar, banyak teman yang seangkatan tidak melanjutkan studinya sampai selesai. “Karena mungkin merasa malu dan sering dibilang banci kalau seorang laki-laki belajar tari,” katanya.  “Namun saya berpikiran untuk tetap dan terus belajar. Karena dari menari saya merasa punya sesuatu lebih dalam diri saya, dan bisa membuat orang senang melihat saya dan saya pun ikut merasa senang dan ingin menjadi seorang seniman tari,” imbuhnya.

Walaupun kecintaan terhadap seni tari Bali sangat kuat, melihat kemampuan orang tua dengan penghasilan yang pas-pasan, Gede tidak pernah menyangka bisa menempuh pembelajaran tari sampai ke tingkat universitas. Tetapi atas saran Guru tari dan beberapa orang teman dekat, Gede akhirnya mendaftar di ISI Denpasar pada tahun 2002 dengan proses audisi. “Ternyata di sana tidak memerlukan biaya yang banyak karena memang dibutuhkan orang yang mau memperdalam tari dan juga ada banyak beasiswa yang diberikan oleh pihak kampus untuk mahasiswanya,” kata Gede. Berkat bantuan dari Bibi, Gede dipinjamkan uang sebesar 5 juta rupiah untuk biaya masuk ISI Denpasar. Di ISI Gede belajar selama 4 tahun pada Fakultas Seni Pertunjukan jurusan Seni Tari.

302914_10150444974355930_1859075898_nBanyak ilmu, teman, pengalaman yang Gede dapatkan selama kuliah di ISI. Mulai dari belajar olah tubuh, teknik tari Bali, Jawa, Nusantara, sampai belajar tari kontemporer. “Pengalaman paling menarik yaitu ketika saya mendukung karya ujian akhir kakak kelas. Saya harus latihan setiap hari dari pagi hingga malam hari. Hampir tidak mengenal rumah, karena bangun tidur di area kampus. Tidak ada bayaran apapun kecuali diberi kue dan nasi bungkus. Tapi dari situ pertemanan dan persahatan satu sama lain terjalin dengan baik, yaitu saling membantu,” jelasnya.

Gede menyelesaikan kuliah S1 pada tahun 2007. Setelah dinyatakan lulus, Gede sempat mengalami kebingungan dan kesulitan waktu mencari pekerjaan. “Karena seniman sifatnya idealis dan senang membantu orang, kita lebih senang karyanya dihargai daripada dibeli dengan uang tapi tidak dihargai,” katanya. Makanya, untuk sementara itu Gede ikut tawaran menari dari teman dan beberapa grup yang sudah punya kontrak tetap di hotel. Dalam masa perjuangan itu, Gede sempat menjadi penari modern, menari Bali dengan bayaran murah, menari Hip Hop, sampai ikut kelompok fire dance. “Menjadi seorang penari bayaran sangat melelahkan karena harus kerja pada malam hari, mulai pukul 8:00 malam dan selesai pukul 2:00 pagi dini hari,” kata Gede. Jika tidak ada tawaran menari Gede terpaksa “nganggur” dan kadang-kadang tidak mempunyai uang untuk biaya makan sehari-hari.

318418_1848026618811_9865714_n

Pada suatu hari, perjalanan hidup Gede mulai berubah waktu dia mendapat info dari Guru tarinya bahwa Kementerian Luar Negeri, Jakarta sedang mencari tenaga pengajar seni budaya untuk ditempatkan di beberapa perwakilan RI di luar negeri. Gede disarankan untuk mencoba melamar. “Pertamanya saya ragu, karena merasa kemampuan saya kurang. Saya tidak bisa berbahasa Inggris, computer, mengendarai mobil dan belum pernah punya pengalaman ke luar Negeri. Jangankan ke luar Negeri, ke luar Bali saja jarang,” kata Gede sambil ketawa. Waktu itu Gede mendapat dorongan dari banyak pihak, termasuk teman, orang tua, dan ketua sebuah sanggar seni di Celuk yang bernama Pak Ketut Widi. “Beliau mendorong saya untuk daftar dan membantu saya dalam membuatkan surat lamaran, daftar riwayat hidup dan membantu membuatkan email serta mengirim dokumen via fax,” kata Gede.

Setelah dokumen dikirim, akhrinya Gede dipanggil oleh staf Kemlu untuk datang ke Jakarta untuk mengikuti tes. Itu merupakan pengalaman yang luar biasa bagi Gede. “Saya harus naik pesawat ke Jakarta sendirian, ikut tes, dan tinggal di Jakarta selama 3 hari. Sempat ragu untuk pergi karena saya tidak punya teman atau keluarga di Jakarta,” katanya.  “Saya kurang begitu yakin kalau saya bisa lolos seleksi pegawai setempat. Tapi berkat doa dan kerja keras, akhirnya saya mendapat info dari Kemlu Jakarta bahwa saya lulus seleksi dan diterima menjadi pegawai setempat bidang seni budaya di KBRI Canberra, Australia,” jelasnya.

gedeAkhirnya Gede mulai menempuh hidup baru di Australia dan sekalian mulai proses penyesuaian diri. Di Canberra, Gede belajar banyak dari atasan, teman, dan pergaulan dengan orang Australia. Mulai dari Bahasa Inggris, mengendarai mobil, disiplin dalam berlalu lintas, menggunakan computer, birokrasi dan administrasi, sampai mengenal caranya bermain golf. “Banyak hal yang bisa dipetik dari pengalaman ini karena salah satu tugas utama saya adalah memperkenalkan tradisi dan seni budaya Indonesia kepada para siswa/siswi Australia dan orang Australia yang belajar tentang Bahasa dan Budaya Indonesia,” kata Gede.

10257004_10201817974237763_4091377913790353413_n

Untuk para seniman muda Indonesia, Gede berharap supaya mereka berusaha untuk lebih membuka wawasan ke depan dalam memperkenalkan seni budaya Indonesia di kancah International. “Jangan hanya tergantung pada kegiatan di dalam negeri tetapi juga harus mau mencoba mempromosikan seni budaya Indonesia ke luar negeri baik itu lewat misi kesenian, menjadi tenaga pengajar di suatu universitas, menjadi duta budaya atau memberikan workshop seni kepada orang asing. Tidak harus secara resmi. Bisa mulai dengan pendekatan informal,” kata Gede. Gede juga menyayangkan bahwa tidak banyak yang berani merantau ke luar negeri dengan alasan tidak “pede,” “Padahal dia bisa dan mampu untuk melakukan itu,” tegasnya.  “Semua orang pasti bisa, asal dengan niat, doa, serta kemauan hati yang tulus, you can do it!” Semoga pengalaman Gede ini bisa diambil hikmahnya dan menjadikan teman-teman seniman muda Indonesia lebih giat berkreatifitas dan berkarya demi mempertahankan warisan seni budaya leluhur kita.

Platform Boots and a PhD: the multi-talented Oki Rahadianto

With a crown of funky fuzzy curls atop his 10303471_10152931669158154_7557960977178657575_nhead, Oki Rahadianto cuts a striking figure. His wide grin, a not-so-secret weapon possessed by many Indonesians, beckons curious onlookers to join him in friendly conversation. Since his youth, Oki has had a passion for music. Throughout his career as a student, making music, reading books, engaging with the community and participating in critical discussion have all been sources of joy and self-fulfillment. In 2013, Oki won a scholarship to a study towards his PhD at the University of Newcastle. Majoring in sociology, his research focused on the difficult transition of young Indonesian musicians into adult working life. Now officially a Doctor, Oki still calls Newcastle home.

Born in Solo, Oki graduated cum laude from the Universitas Gadjah Mada in Jogjakarta. He quickly rose to the ranks of dosen muda (young lecturer) at UGM. “Growing up in Solo in the period of the post-98 riots, my friends and I didn’t have many places to hang out because all the malls and cinemas were burnt down. We used to go to Jogja on the weekends so I was very happy to end up going to university there,” explains Oki. At UGM Oki mingled with a number of Australian exchange students participating in the ACICIS program. “I had the chance to become what you might call an ACICIS mentor. If I’m not mistaken, one of my most important jobs was to engage in conversation with them. Anyway, I am still in touch with a few of the friends I made until today,” says Oki.

1904209_10153095421893154_6426546147863448931_n

Armed with a small amount of exposure to Australian culture through his friends in Jogja and a three month stint spent down under ten years ago, Oki made the bold move to Newcastle in 2013 where he quickly found himself immersed in a vibrant music scene. Since his arrival, Oki has contributed enthusiastically to the vibrancy of the local culture by connecting with various community groups and exploring a diverse range of musical genres. Positioning himself deliberately in the heart of the city, Oki set out to explore the local pub culture while living among the local youth in share houses. Word quickly spread of the arrival of a new musician on the scene.

“The first band I joined was called Smozzle Tov. They played traditional Jewish and Eastern European Music. My first gig with Smozzle Tov was for a community that operated on a barter system. We were paid in boxes of vegetables hahaha!” recalls Oki.  With that band Oki also collaborated with several Asian and African musicians at multicultural events. He also worked with a creative Blues band called The Masked Man which drew on elements of theatre to liven up shows.

13906798_10155090323553154_3743574237205582246_n

One of Oki’s most memorable experiences so far has been collaborating on Helena Kitley’s album, The Temporal Lope. “Personally, I was very happy with the outcome of this album. The launch was a success, too.” Oki also participated in the shooting of a music video for this album. “It was awesome because in the clip we had to play while getting covered in rain. We filmed it at night in the middle of Newcastle winter. The next day I had to go out buy some vitamin C hahaha.

 

Oki has also contributed to filling a gap in the knowledge about Indonesia among the locals of Newcastle. “I started a music project in Newcastle called Newyindo which is short for Newcastle-Indonesia. The idea was to get conversation going between Indonesia and Newcastle,” says Oki. He adds, “I would get disappointed when speaking to locals who seemed to only know about Bali. Someone even said to me, I’ve been to Bali but haven’t been to Indonesia yet.11102870_10206447094314844_4393597950638391865_nThe band was made up of a range people from different cultural groups from Indonesia and Australia and played at a number of events showcasing cultural and musical fusion.  “I’m sad to see in Indonesia that traditional music is often regarded as ‘uncool.’ When I was younger, I also fell into that trap. Now I finally realise that all music is good because it is created within its unique socio-cultural setting.”

12042638_10154186813663154_444807099588637103_nPossibly, one of Oki’s most renowned gigs has been with the local glam rock covers band, Glam Slam. On one of his trips to the Wickham Park Hotel, he first saw this group perform and became an instant fan. “I went and spoke to them during a break and after that made sure to come and watch their shows as often as I could,” says Oki. “A little while later, the guitarist, Dave Forbes contacted me looking for a bassist and me if I’d be interested in playing glam rock. I said yes, of course, and they sent me their playlist for the next six months.”

Oki joined Glam Slam playing covers of the likes of Queen, Bowie, Cheap Tricks and even Skyhooks. “Onya mate!” adds Oki. “The hardest part for me was adopting the androgynous look for performances to match the spirit of the glam rock era. I had to wear platform boots, make up and lipstick.” Explains Oki. “I also had to learn to walk in the boots while working on my stage persona to fit in with the glam image.” Oki has played with Glam Slam almost every weekend in Newcastle pubs. The popular group has even been listed in the top five gigs in Newcastle!

Into the future, Oki hopes to continue his lifelong work as a sociologist as well as a musician. He defines success as being able to contribute to the well-being of his family back in Indonesia. “In Indonesia we do not have a proper social welfare system. I want to be able to help my parents cover medical treatment at a hospital and help members of my extended family pay for the cost of education. For me, success is something that we can share together.” Oki expresses great pride in his parents and mentions his mother’s kindness and strength as one of his greatest sources of inspiration.  Now armed with a PhD and platfoom boots, we wish Oki all the best on his life journey.

 

Joko Susilo: The Master of Wayang

1382887_10152302576038135_1476929433_n

It seems Joko Susilo was born to be a dhalang, a master of the Javanese art of wayang kulit (shadow puppetry). Originating from the Central Javanese village of Mojopuro and now based at the University of Otago in New Zealand, Joko performs for audiences around the world. On his frequent visits to Australia, he introduces the magic of wayang kulit to curious spectators and aspiring musicians. Coming from a long line of dhalangs, Joko began following his father to observe the action of wayang kulit shows from the age of three. “From that age, I began to develop a deep knowledge of the stories, characters and melodies of the gamelan,” explains Joko. “I held my first all-night solo wayang kulit show when I was ten years old.”

After finishing high school in 1982, Joko enrolled at Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) in the city of Solo to pursue pedalangan (puppetry) at a tertiary level. After graduating in 1986, he became a lecturer in the pedalangan department at STSI. “For almost ten years, I continued to perform all-night wayang kulit plays while lecturing at STSI.” A major turning point occured when Joko moved to New Zealand in 1993 to pursue an MA followed by a PhD in Ethnomusicology at Otago University.

Since moving overseas, Joko realised that he would have to alter his shows to appeal to western, English-speaking audiences. “When overseas, I always use English for the narration (janturan), dialogue (ginem) and the pocapan (narration unaccompanied by the gamelan),” he explains. Conducting something so deeply-rooted in Javanese tradition for a non-Indonesian audience is no easy feat.

205440_10150170394333205_1634156_n

Joko the dhalang in action

“Firstly, of course, not all Javanese language can be translated directly into English without losing some of the essential meaning.” Also, Joko stresses that certain Javanese values don’t always mesh with a western audience. “I have to be selective in making the dialogue. Western audiences don’t like much repetition and the story needs to get to the point.” The way the puppets move (sabet) also needs to be changed because according to Joko, “In Java they tend to use a lot of violence in the shows.” The jokes are probably the hardest part. “A lot of jokes popular in Indonesia would not go down well overseas, including the ones associated with saru (pornographic) style wayang.”

 As a lecturer at the University of Otago, the vast majority of his students are from a non-Indonesian background. “When it comes to teaching my students gamelan, I have to introduce everything in careful detail, explaining the name and function of each instrument in the ensemble. It can be very confusing for the uninitiated and not all of my students come from a musical background. I give them lots of listening tasks,” says Joko. Learning gamelan isn’t something that happens overnight. “I also need to be patient as I introduce the basic techniques so that they learn to play properly.” Starting with more western style melodies, Joko gradually immerses his students into the original sounds of Java. “With careful guidance, my students become skilled gamelan musicians.”

Joko makes frequent visits to Australia as a guest of a number of universities. In particular, he often collaborates with universities with a gamelan set but without a native Indonesian teacher. Reflecting on his experience, Joko says, “At first, I find that these students only play the gamelan based on what they read off the sheet music, without any feeling. It’s always a challenge to add some variation to the way they play and deviate from what is written in front of them.”

Other times, when he leads a group who have an Indonesian teacher, things don’t always go smoothly. “Although originating from Indonesia, the teacher may have been in Australia for a very long time and as a result, may not up be to date on the latest trends in gamelan,” claims Joko.

14199259_10155200591523135_2094614417921052016_n

With his talented team after this year’s performance at Griffith University

He adds, “That’s where difficulties arise because I like to use new songs, patterns and different techniques in my shows. Sometimes the Indonesian teachers aren’t too receptive to these changes.” In any case, Joko always enjoys great success with his wayang shows. “I receive good feedback from the gamelan groups I work with as well as from audiences.” Joko has been working with the Griffith University Conservatorium in Brisbane for the last eight years every semester, culminating with an evening performance of wayang kulit, Javanese dance gamelan.  “I also work with Melbourne University, Monash, Flinders University and the University of Tasmania.”

 When tailoring a performance to meet the needs of western and Indonesian audiences, Joko describes a number of key points to keep in mind. “In Indonesia, the audience is already used to hearing the special language of wayang as well as the sounds of the gamelan. Overseas, we have to adapt our shows to meet the expectations of the audience and the capability of the local musicians. I usually pick out more ‘catchy’ tunes. The traditional compositions we use also need to be particularly touching.” The challenge of appealing to an Indonesian audience lies in originality and pushing the boundaries. “In Indonesia, almost everyone knows the characters and stories of wayang so there’s no problem in picking a story, but in order to win over our audience and keep them interested for the whole show, we need to be more creative.

When asked about his plans for the future, Joko replied, “My dream is to become the President of Indonesia! Huahahahahahahahaha” Well, who knows? Perhaps Joko’s puppeteering skills can be put to good use in the theatrics of Indonesian politics. Anyhow, let us hope that Joko continues to share the beauty of wayang kulit and Javanese gamelan to the rest of the world for many years to come.