Menarik Hati Wisatawan Australia dengan Gamelan Jegog

Semenjak tahun 1970an, liburan ke pulau Bali sudah menjadi gaya hidup untuk sebagaian besar warga Australia. Namun, sampai sekarang tempat yang kerap dikunjungi oleh wisatawan Australia hanya terkonsentrasi di bagaian selatan, termasuk Pantai Kuta, Seminyak, dan Nusa Dua. Ternyata, di luar kawasan ini ada banyak daerah lain yang juga layak dikunjungi. Akhir-akhir ini, gerakan “Pariwisata Berbasis Budaya” merupakan salah satu strategi untuk “menggoda” wisatawan keluar dari zona nyaman, dan sekaligus memperluas kreativitas masyarakat Bali.  Menurut Adi Hartawan, seorang seniman muda yang telah berhasil menjalankan program pariwisata berbasis seni budaya di Kabupaten Jembrana, gerakan pariwisata ini dapat membuahkan hasil positif untuk masyarakat lokal serta wisatawan Australia.

18671665_297175770709641_8157297762214245084_o

Wisatawan asing sedang bermain jegog di Sanggar Adi Gama, Kabupaten Jembrana

Pada tahun 2015 Adi bersama dengan bapak I Wayan Gama Astawa mendirikan sebuah sanggar seni karawitan dan tari Bali khas Jembrana yang diberi nama Sanggar Adi Gama. Sedikit demi sedikit, mereka membuat sebuah program khusus untuk wisatawan asing yang ingin mengetahui lebih dalam tentang musik khas daerah Kabupaten Jembrana. Terletak di ujung barat pulau Bali, Kabupaten Jembrana memiliki berbagai macam kebudayaan dan kesenian yang sangat berbeda dengan kabupaten lain di Bali. Perbedaan ini justru memberikan nuansa yang khas sehingga Jembrana memiliki jati diri sendiri.

adi hartawan

I Wayan Gama Astawa dan I Made Dwi Adi Hartawan

Jegog merupakan sebuah alat music terbuat dari bahan dasar bamboo yang menghasilkan suara sangat merdu dan menawan hati. Menurut Profesor I Nyoman Darma Putra dari Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Udayana, perkembangan industri pariwisata di Jembrana berhubungan dengan erat dengan kesenian jegog. “Jegog dan pariwisata berhubungan secara resiprokal,” kata Prof. Darma. “Artinya, jegog lestari dan tumbuh semarak karena pariwisata, pada saat yang sama, pariwisata mendapat jenis hiburan baru dari seni tabuh dan tari berbasis jegog,” imbuhnya. Gamelan jegog memang merupakan identitas Kabupaten Jembrana samapi banyak wisatawan asing tertarik untuk mempelajari musik jegog ini.

Proses memperkenalkan musik jegog kepada orang asing justru bukan hal yang mudah dan perlu teknik pengajaran khusus yang sangat rinci dan teliti. “Yang paling utama sebagai guru itu kita harus bersabar untuk mengajar orang yang sama sekali belum pernah memainkan instrumen gamelan,” kata Adi. “Pertama-tama saya memberikan definisi tentang gamelan jegog kepada mereka, kemudian saya menceritakan sedikit pengalaman saya tentang awal mula mempelajari gamelan ini, supaya mereka lebih tertarik dan nyaman saat berhadapan dengan media jegog,” imbuhnya.

Dengan tekun, Adi kemudian memberikan teknik cara memegang panggul, dilanjutkan dengan pengenalan nada dan teknik pukul dari instrumen satu ke yang lainnya. Akhirnya, muridnya diberikan tabuh atau lagu yang paling mudah supaya bisa menikmati proses penuangan musik dengan jegog. “Selain teknik, guru juga harus memperhatikan respon dari murid supaya mereka tidak bosan. Saya selalu mengatur waktu untuk istirahat dan untuk belajar, karena jika terus hanya diberikan pelajaran saja, pasti mereka akan jenuh atau kehilangan konsentrasi,” ujarnya. “Maka dari itu, saya harus mengajak mereka membuat canda tawa seperti quiz dan geguyonan agar mereka relax sebelum mempelajari bagaian berikutnya hingga selesai. Saya juga mengajak mereka untuk mengunjungi tempat wisata seperti air terjun, persawahan, sungai, dan bukit di sekitar sanggar,” imbuhnya.

18299572_767903563383889_2548122187395497984_n

Adi bersama muridnya

Menurut Adi, proses pertukaran ilmu ini juga membantu menjalin hubungan antar bangsa yang lebih erat. “Karena saya tidak hanya memberikan ilmu tentang musik tetapi juga tentang budaya saya. Dari murid saya, saya juga mendapatkan informasi tentang budaya yang mereka miliki,” kata Adi. “Wisatawan yang datang ke sanggar saya merasa sangat bahagia dan nyaman di sini sampai saat mereka harus pulang, mereka bersedih karena ingin tetap tinggal di hutan di sini,” imbuhnya.

18444304_447093818969765_7954589026319597568_n

Kabupaten Jembrana masih memiliki kekayaan alam

Untuk kedepannya, Adi ingin masyarakat di Jembrana bisa hidup layak dari kegiatan berkesenian. “Saya ingin kesenian daerah seperti seni jegog Jembrana bisa lebih dikenal sampai ke manca negara, termasuk Australia.  Saya berharap supaya warga negara asing yang berkunjung ke Bali tidak hanya bermain ke Kuta atau Nusa Dua tetapi juga berkunjung ke Jembrana, khususnya ke Sanggar Adi Gama,” kata Adi. Kabupaten Jembrana memang memiliki pontensi alam yang belum disentuh oleh perkembangan industri besar pada masa kini. “Kekayaan alam yang dimiliki oleh kabupaten ini memberikan peluang kepada masyarakatnya untuk memanfaatkan kekayaan ini secara baik dan berguna,” kata Adi.

Advertisements

Peneliti Indonesia dan Cerita Cintanya dari Kota Brisbane

FB_IMG_1500214975343Di sela-sela menulis disertasi di University of Queensland, Temi Pratomo, seorang mahasiswa Strata 3 asal Indonesia telah berhasil menulis bukan satu tetapi dua buah novel yang terinspirasi oleh kehidupannya di Brisbane, ibu kota wilayah Queensland, Australia.  Dua novel ini yang berjudul “Cerita Cinta Dari Brisbane” dan “From Brisbane with Love” merupakan kumpulan kisah cinta yang berbuah dari imajinasi Temi saat di Brisbane sambil belajar di kampus University of Queensland (UQ). Menulis novel sambil mengerjakan disertasi justru bukan hal yang mudah, apalagi jika sedang menjalankan hidup sebagai mahasiswa di rantau. Bagaimana Temi dapat mencari inspirasi untuk berkarya sambil menghadapi tantangan kuliah di Australia?

Niat Temi untuk menulis memang sudah ada semenjak duduk di bangku SMP, tetapi sempat “mati suri” cukup lama sebelum kembali lagi ketika kuliah S2 di Norwegia. Sekarang, semenjak tinggal di Australia, hobi Temi untuk menulis “menjadi menggila.”  Dengan suasana tenang dan tertib dan gedung-gedung yang bergaya klasik, kampus UQ menjadi sumber inspirasi untuk Temi. “Ya, kondisi UQ yang memang seperti kampus impian, membuat inspirasi itu terus menerus keluar,” kata perempuan peneliti LIPI itu. Meskipun semua tokoh dalam ceritanya merupakan fiksi belaka, memang terkadang juga ada beberapa teman yang menjadi inspirasi untuk menciptakan sebuah tokoh dalam ceritanya. “Tetapi yang tentunya saya modifikasi,” kata Temi.

FB_IMG_1500245803757

 Walaupun fokus utama Temi di Brisbane memang untuk kuliah di bidang Earth and Environmental Science, menulis novel justru menjadi obat jenuh dalam menghadapi disertasi yang sangat penuh tantangan. “Semakin saya stress karena disertasi, semakin kuat keingianan saya untuk menulis novel.  Lucu ya?”  ujar Temi.   Menulis novel disela-sela menulis disertasi memang tidak mudah. “Saya butuh waktu satu setengah tahun untuk mengumpulkan kelima cerita yang tertuang dalam dua buku tersebut,” imbuhnya.

Secara independen, Temi telah berhasil menelurkan dua kumpulan cerita itu dalam bentuk novel. “Pertama-tama semua tulisan itu diupload di blog pribadi saya untuk mendapatkan feedback dari pembaca dan juga melihat respon ‘pasar’ sebelum isinya diperbaiki,” kata Temi. Pada suatu hari di kampus di UQ, sebuah pertemuan dengan teman kuliah membuat Temi termotivasi untuk mempublikasikan cerita-ceritanya secara independen. “Saya bertanya bagaimana caranya dia mempublikasikan puisi-puisi karyanya.  Ternyata dia melakukan secara indipenden dan suaminya yang menjadi penerbitnya.”

Sampai saat ini, respon dari pembaca cukup bagus. “Target saya adalah teman-teman alumni UQ, karena tujuan saya menulis adalah memberikan suvernir kepada mereka, sesuatu yang mampu membuat mereka selalu mengingat UQ dan Brisbane pada umumnya,” kata Temi. Buku pertama sudah habis 170 eksemplar dan buku kedua yang baru diterbit masih tinggal beberapa buah.

Untuk ke depannya, Temi sangat mengharapkan cerita-ceritanya bisa dipublikasikan oleh penerbit resmi. “Walaupun saya tahu saya harus kerja keras untuk itu. Masih banyak sekali yang harus saya perbaiki,” kata Temi. Temi juga menyarankan penulis-penulis lainnya yang masih malu-malu untuk tidak pernah takut gagal. “Karena gagal itu hal yang biasa yang pasti akan dihadapi.” Dengan mengutip film Indonesia berjudul, Stay with me oleh Rudi Soedjarwo, Temi menekankan bahwa “Sebuah karya nggak seharusnya hanya tersimpan di lemari.”

Pagelaran Gamelan Gong Kebyar Bali Capai Puncak Kesenian di Australia

Canberra, Australia – Aula gedung National Gallery of Australia (NGA) bergetar dengan suara nyaring Gamelan Gong Kebyar dan gerakan tari Bali yang gesit dan lincah pada hari Minggu (23/4/2017). Pagelaran seni budaya ini merupakan buah hasil kerjasama Sekaa Gong Sekar Langit dari KBRI, Canberra dan Kita Art Community, Bali. Pertunjukan tersebut ramai dihadiri anggota masyarakat sampai setiap pertunjukan musik dan tarian langsung disambut tepuk tangan yang memenuhi ruangan James O’Fairfax Theatre di NGA. Anggota grup gamelan Sekar Langit ini hingga penari Bali diwakili oleh warga Indonesia maupun Australia. Dengan tekun mereka turut bersama untuk menampilkan contoh seni budaya Indonesia terbaik di NGA, yang merupakan puncak seni pertunjukan di Australia. Mereka membawakan tiga tarian tradisional yaitu tari Pendet, Topeng Keras dan Joged Bumbung dan tiga jenis tabuh yaitu Bapang Selisir, Godeg Miring dan Gilak.

IMG_9308 (2)

Tari Pendet oleh Kadek Elena Kusuma Dewi, Jane Ahlstrand dan Ni Komang Tri Paramityaningrum

WhatsApp Image 2017-04-27 at 14.53.02

Gede saat melatih muridnya

Selama 5 bulan terakhir, para penabuh dari Sekaa Gong Sekar Langit telah bergabung secara rutin di lokasi KBRI, Canberra untuk latihan intensif di bawah asuhan I Gede Eka Riadi, seniman muda asal Desa Kapal, Bali yang sekarang menjadi duta budaya di Australia. Didirikan pada tahun 2015 dengan tujuan untuk menghidupkan seni budaya Bali di luar Indonesia, Sekaa Gong Sekar Langit sudah menjadi cukup terkenal di Canberra sebagai wadah musik tradisional Indonesia yang bermutu. “Awalnya, saya menemukan beberapa alat musik gamelan yang disimpan di salah satu gudang di KBRI,” katanya. Sedikit demi sedikit Gede perbaiki gamelan ini supaya akhirnya dia siap untuk mengundang anggota masyarakat dan pegawai KBRI untuk membentuk grup gamelan resmi. “Yang datang untuk belajar merupakan warga Indonesia yang bekerja sebagai staff di KBRI atau yang sudah menetap di Australia dan ingin menikmati dan melestarikan seni budaya Indonesia di sini. Ada juga beberapa anggota asli Australia yang telah menikah dengan warga Indonesia. Mereka bisa dibilang pecinta budaya Indonesia,” imbuh pria yang akrab disapa “Dedu.”

WhatsApp Image 2017-04-27 at 14.52.32

Anggota Sekaa Gong Sekar Langit menikmati kebersaaman saat istirahat

Dua minggu menjelang Hari-H, Sekar Langit kemudian bergabung dengan beberapa seniman muda berbakat dari Kita Art Community, Celuk, Bali yang diundang KBRI khusus untuk memenuhi posisi dalam orkestra dan juga untuk membawakan beberapa tarian tradisional. Dipimpin oleh I Ketut Widi Putra, Kita Art Community telah didirikan pada tahun 2006 dengan cita-cita mulia untuk memfasilitasi kesempatan untuk seniman muda mengembangkan karier di dunia hiburan dan pariwisata di Bali, dan juga untuk melakukan pertukaran budaya. I Gede Eka Riadi merupakan salah satu seniman yang memulai kariernya dengan Kita Art Community.

WhatsApp Image 2017-04-27 at 14.53.43

Sekar Langit bergabung dengan seniman dari Kita Art Community dari Bali di KBRI Canberra

Kumpulan seniman tersebut termasuk dua penari putri bernama Kadek Elena Kusuma

WhatsApp Image 2017-04-27 at 17.48.44

Ida Bagus Putu Purwa bersama I Gede Eka Riadi

Dewi dan Ni Komang Tri Paramityaningrum, satu penari putra bernama I Dewa Dwi Putrayana dan satu penabuh bernama Ida Bagus Putu Purwa. Akhirnya pasukan penari dilengkapi oleh Jane Ahlstrand, seorang penari Bali asal Brisbane, Australia yang sudah mendalami tari Bali selama 6 tahun.  Semua mengaku gembira dan semangat tinggi untuk berpartisipasi pada saat mereka menerima tawaran untuk pentas seni budaya Bali di Australia, terutama Ida Bagus Putu Purwa, yang sudah menjadi teman baik Gede Eka Riadi semenjak mereka kuliah bersama di ISI Denpasar pada tahun 2002. “Ya, saya tidak menyangka kalau saya bisa ikut ke luar negeri, tapi ternyata, memang jalan Tuhan mungkin, saya bisa di sini juga dengan Dedu (Gede),” ujarnya. Untuk Ningrum, Elena dan Dewa, mereka semua mengucapkan terima kasih kepada Ketut Widi Putra dan Gede yang telah membantu mereka menemukan peluang berharga seperti ini.

IMG_8251

Tari Topeng Keras oleh pemuda I Dewa Dwi Putrayana

IMG_9312

Tari Joged Bumbung dengan Jane Ahlstrand dan I Komang Tri Paramityaningrum

Setelah menghabiskan tenaga dan waktu selama 5 bulan dalam proses persiapan, akhirnya semua berjalan dengan lancar di lokasi NGA. Dalam acara pertunjukan yang digelar pada dua sesi pada hari Minggu itu, semua penabuh dan penari mengaku heran atas kelancaran program dan keberhasilan dalam bekerjasama. Suara merdu dari gamelan dan kelincahan tari Bali mengundang kegairahan dari penonton sampai beberapa para pemain bahkan menduga ada campur tangan ilahi yang menentukan keberhasilan pertunjukan mereka.

IMG_9342

Foto bersama pada penutupan sesi pertama di NGA

Perayaan Kuningan Disambut Meriah oleh Warga Queensland, Australia

17974029_1297340763646937_423013664_n

Masyarakat sedharma melakukan sembahyang bersama di Gold Coast, Australia (Image source: Arathy Thirukumar)

Ditemani semilir angin dari tepi pantai, warga dari Gold Coast, Brisbane dan sekitarnya berkumpul di Harley Park, Labrador, Australia pada tanggal 15 April untuk untuk merayakan hari suci Kuningan. Pada hari ini yang jatuh 10 hari setelah hari raya Galungan, umat Hindu dari Bali biasanya melakukan pemujaan kepada para Dewa dan leluhur untuk memohon keselamatan dan perlindungan lahir-bathin. Menariknya, bukan hanya warga asal Bali yang datang untuk turut serta dalam upacara tersebut, tetapi juga ada warga Australia yang membantu dalam pelaksanaan ritual dengan membuat sesajen, makanan dan bahkan ada yang menampilkan tari tradisional Bali.

DSC_5379

Savitri Wiednya sedang menyiapkan sesajen (Image source: Agustinus Jogiono

 

Selama 3 tahun berturut-turut, yayasan Balinese Indonesian Multicultural Assocation

DSC_5546

Image source: Agustinus Jogiono

(BIMA) yang berlokasi di Gold Coast, Australia mengadakan upacara Kuningan di Queensland dengan tujuan utama untuk membantu para diaspora Bali menghidupkan tradisi dan budaya Bali di luar negeri, sambil memadamkan rasa rindu kepada kampung halaman di Bali.  Selain itu, anggota BIMA juga ingin mengajak teman-teman dari suku bangsa dan agama lain untuk datang dan merasakan keindahan budaya dan kesenian Bali, sekaligus menjalin hubungan baik dengan masyarakat Australia.

DSC_0117a

Louisa Wirata, istri warga Bali sedang berdoa (Image Source: Agustinus Jogiono)

Dalam upacara Kuningan yang dilakukan di Harley Park ini, BIMA telah mengundang seorang pemangku (pendeta) dari Gympie untuk memimpin kegiatan sembahyang bersama. Selain itu, para anggota dan teman BIMA bergotong-royong untuk membangun tempat pemujaan, lengkap dengan banten (sesajen dari buah-buahan), umbul-umbul, dupa dan tirta (air suci).

 

Setelah sembahyang bersama, upacara dilanjutkan dengan pertunjukan tari tradisional yang dibawakan oleh Sanggar Anahata dari Brisbane. Para anggota sanggar tersebut merupakan campuran budaya dan kewarganegaraan, termasuk Jane Ahlstrand asal Australia, Arathy Thirukumar yang keturunan Sri Lanka dan Ari Dharma asal Bali. Mereka bersama menampilkan tiga jenis tari Bali yaitu tari Baris, Margapati dan Jauk Keras yang disambut meriah oleh para penonton.

17968800_10156222031722575_278132371_o

Jane Ahlstrand bersama Arathy Thirukumar, penari Bali asal Australia (Image source: Agustinus Jogiono)

 

DSC_0286

Ari Darma, pelajar asal Dalung saat menari Baris (Image source: Agustinus Jogiono)

Saat ditanya, Presiden BIMA, Bapak Wayan Wiednya mengucapkan bahwa dia merasa sangat puas karena para sahabat dari berbagai latar belakang telah bergabung untuk merayakan hari raya Kuningan bersama di Gold Coast. “BIMA hanya menyediakan tempat buat saudara-saudara kami yang seperantauan untuk bisa melakukan persembahyangan dan sekaligus silaturahmi,” Kata Wayan.

DSC_0099

Presiden BIMA Bapak Wayan Wiednya (Image source: Agustinus Jogiono)

“Sayangnya, kami orang Bali belum punya tempat suci atau ibadah di sini tetapi meskipun begitu, saya merasa sangat beruntung kami punya teman-teman yang bisa membantu untuk melaksanakan ritual kami, ujarnya.” Menurut Bapak Wiednya, semua kerja itu adalah Yadnya, yaitu, suatu berbuatan yang dilakukan dengan penuh bhakti keiklasan dan kesadaran.

 

2016 Bali Artists’ Camp Showcases Australia-Indonesia Engagement

IMG_9618In the midst of a tropical downpour, artists and art lovers alike gathered at Made Budhiana Gallery, Lodtunduh, Ubud to celebrate the opening of the Bali Artists’ Camp exhibition held on Saturday 8 April 2017. Artwork on display was produced entirely by participants of the 2016 Bali Artists’ Camp in which artists from Australia, Indonesia and Japan gathered together in search of inspiration as they explored the beauty and lushness of Eastern Bali, built friendships and ultimately, produced an impressive suite of intoxicating artwork. In its fifth year, the Bali Artists’ Camp aims to stimulate ongoing engagement among cultures, landscapes and people, resulting in an exciting body of collaborative pieces.

Many of the artists of 2016 had previously joined the 2015 Artists’ Camp held in Australia’s Northern Territory in conjunction with the Northern Centre for Contemporary Art, Darwin. On this occasion, a blend of Australian and Indonesian artists gathered for the first time to explore the rich culture and wild landscape of Northern Australia, leading to the birth of new friendships and the extensive development of artists’ repertoires.

IMG_9653

Nanik Suryani stands beside some of her artwork on display

Ms Nanik Suryani from Banyuwangi, Indonesia is one such artist who had the opportunity to participate in both events. Suryani speaks highly of her experience at the 2015 Bali Artists’ Camp held in the Northern Territory as source of inspiration and personal development as an artist. “It was the first time for me to participate in such an art camp, which literally involved camping in the middle of the woods. I not only made new friends from Australia and Indonesia but also enjoyed engaging with a new landscape while also learning a new style from Indigenous Australians,” states Suryani.

On returning to the Bali Artists’ Camp in 2016, Suryani’s style had already evolved to incorporate a new way of seeing and painting, inspired by Aboriginal dot painting she had learned while in Australia.  “My art is based on a Consensusism which uses abstract geometic composition, balancing elements of shape, light and colour. I now also like to experiment with Indigenous Australian painting, incorporating modern dot painting techniques,” adds Suryani.

The exhibition will be held until the 8 May at the Made Budhiana Gallery, Villa Pandan Harum, Gang Pandan Harum, Jalan Anak Agung Gede Rai, Lodtunduh, Ubud Bali. The artists and founder of the Bali Artists Camp, Mr Colin McDonald QC would like to acknowledge the support received from the Commonwealth Bank of Indonesia, the Indonesian Department of Foreign Affairs, the Northern Territory Government, and the Consulate-General of Australia in Bali.

I Gede Gunada Eka Atmaja: Pelajaran Hidup Semua Dimulai dari Seni

Pada malam hari yang sejuk-segar ditabur hujan deras, sosok Gede Gunada terlihat tenang sambil hadir di acara pembukaan pameran lukisan Bali Artists’ Camp di Lodtunduh, Ubud, Bali.  Seniman asal Karangasem, Bali ini sudah mulai melukis sejak kecil, dan dari hobi itu Gede telah mendapat banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang berharga. Sebagai salah satu peserta Bali Artists’ Camp yang diadakan di dua lokasi, yaitu Northern Territory pada tahun 2015, Australia dan Karangasem, Bali pada tahun 2016, pelajaran hidup Gede Gunada justru menambah. Bersama dengan delapan seniman lainnya asal Australia, Jepang dan Indonesia, pada tahun 2015 Gede dikirim ke Australia untuk mengalami pemandangan alam dan suasana baru, meraih ilmu sambil berkolaborasi dengan seniman pribumi Australia. Bagaimana kisah seniman sederhana ini saat dia berkarya di tengah gurun Australia?

IMG_9684

 “Bali Artists’ Camp adalah sebuah pengalaman yang sangat berpengaruh bagi saya,” kata Gede. “Di Australia, saya sebenarnya merasa seperti kita kembali ke Bali yang masa lalu, berkarya di alam lepas, dikelilingi tanah luas dan banyak binatang liar,” imbuhnya. Dengan dukungan pemerintah Northern Territory, kelompok seniman diajak berkiling alam lepas Australia untuk mencari inspirasi. Pada malam hari, mereka berkemah di padang gurun dan di situlah mereka melukis, terinspirasi oleh kenangan yang dibawa dari jalan siang hari.

Melihat hasil yang menjanjikan dari Bali Artists’ Camp 2015, pada tahun 2016, Gede diundang kembali untuk berpartisipasi dalam Camp tersebut yang kali ini diadakan di Karangasem, di sebuah lokasi dekat desa asal dia. Dalam bayangan Gunung Agung, diiringi kehijauan hutan lebat, pasukan seniman berbeda negara ini mulai bergerak, mencuri pemandangan alam sehingga membuahkan hasil lukisan masing-masing. Dalam suasana pagi yang mendung, Gede bekerja cepat dan dalam 2 jam sudah berhasil menerjemahkan pemandangan Gunung Batur ke dalam bentuk lukisan akrilik.

Gede Gunada merupakan seniman yang sudah mulai aktif sejak kecil. “Sayang sekali hasil gambar saya waktu kecil tidak ada karena semuanya saya lakukan dengan coret-coret di tanah atau di tembok,” kata Gede. “Saya memang fokus melukis dari sekolah dan semua pelajaran saya mulai dari kegiatan seni. Misalnya, saat hendak melukis tubuh manusia, kita harus belajar anatomi,” imbuhnya. Untuk Gede, dunia seni adalah dunia bermain, bermain perasaan dan keterampilan dengan media. “Dari bentuk, warna, garis dan media, saya bisa mengekspresikan diri. Kita bisa melukis saat marah, bahagia atau sedih,” ujarnya. Untuk Gede, seni merupakan salah satu jalur untuk belajar, memperluas wawasan, berkomunikasi dengan alam dan juga bersosialisasi. Bali Artists’ Camp menjadi kesempatan yang sangat patut untuk seniman seperti Gede Gunada.

Kisah Seniman Suryani: Menjelajahi Gurun Australia Melalui Misi Kesenian

Setiap seniman mengalami proses perkembangan masing-masing. Ada yang sejak lahir sudah tahu bahwa dirinya akan menjadi seniman, biasanya berkat darah seni yang mengalir dari orang tuanya. Juga ada yang awalnya belum menyadari bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk berseni, dan hanya kemudian pada usia dewasa mereka baru mengenal kemampuan itu. Untuk Nanik Suryani, yang sudah terbiasa menjalankan hidup sebagai seorang pegawai kantor, satu demi satu dia mulai menyadari bahwa hatinya memiliki dunia seni, bukan dunia perkantoran. Sekarang pelukis asal Banyuwangi ini sangat aktif berkarya sampai dipilih untuk turut serta dalam Bali Artists’ Camp 2015 dan 2016 yang diadakan di Northern Territory, Australia dan kemudian di Karangasem, Bali.IMG_9653

Mulai pada tahun 2006, Suryani menjalani proses pembelajaran melukis sendiri di rumah. Setelah membaca buku berjudul, Everyone Can Draw, niat Suryani untuk menjadi pelukis semakin meningkat. Apa lagi dengan hidup di Bali dalam lingkungan kesenian, olah kreativitasnya justru tumbuh dan berkembang dengan subur.  “Akhirnya saya mengadakan solo exhibition pertama di Ginger Moon Restaurant di Seminyak, Bali pada tahun 2013,” katanya. Seiring berjalannya waktu, diri dan lukisannya semakin terikat. “Awalnya saya masih bertahan kerja kantoran tetapi dengan melihat potensi saya dalam dunia kesenian, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor dan fokus kepada melukis saja,” imbuhnya.

Bali Artists’ Camp yang diadakan di daerah gurun Northern Territory, Australia pada tahun 2015 merupakan suatu pengalaman yang luar biasa untuk Suryani. “Itu pertama kali saya ikut dalam kegiatan art camp seperti itu apalagi dengan melakukan camping di tengah hutan. Saya tidak hanya mendapat teman baru dari Australia dan Indonesia tetapi juga dengan melukiskan pemandangan baru dan belajar style baru dari pribumi Australia, hasil seni saya berubah dan berkembang,” ujarnya.

17757112_657661554421567_4628875691892641375_nPada Artists’ Camp 2016 yang diadakan di Bali, Suryani turut serta berkeliling Bali dengan para peserta lain mencari lokasi dan lingkungan yang inspiratif. Saat keliling Pura Dalem Segara Madu, Desa Jagaraja, Singaraja Suryani berkesempatan menemukan dua buah patung yang menarik perhatiannya dan memadukan dua patung yang sebenarnya terpisah itu dalam kanvas. “Dengan menggunakan style Consensusism, saya bermain dengan elemen bentuk, cahaya dan warna di kanvas,” katanya. “Saya juga terpengaruh oleh pengalaman saya waktu di Australia, saat saya belajar cara melukis langsung dengan seniman Aborigin. Sekarang saya bereksperimentasi dengan style lukisan Aborigin yang bercak bintik-bintik,” ujarnya sambil menunjuk detail lukisanya. Nanik Suryani telah membuktikan bahwa tidak ada kata “terlambat” dalam bidang kesenian. Dengan giat untuk terus berkembang, mencari inspirasi, dan bereksperimentasi, tidak ada batasan umur untuk bergerak di bidang seni.

“Ibu Budi” Hidup Kembali dalam Lagu Anak-Anak di Australia

img-20161205-wa0001“Ini Ibu Budi” adalah sepenggal kalimat yang pasti bergema di ingatan sebagian masyarakat yang bersekolah pada jaman 80-90an. Dengan keinginan memotivasi anak-anak dan para pelajar bahasa Indonesia di Australia untuk mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia, Wenny Bekti Sunaharum bersama dengan suami, Johan Ramandias telah berhasil melestarikan kalimat itu dalam bentuk lagu anak-anak berjudul “Ini Ibu Budi.” Lagunya disertai dengan video klip resmi yang disyut di lokasi alami di lingkungan University of Queensland, Australia dan didukung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia, Canberra dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Sydney. Video klip Ini Ibu Budi baru dirilis pada bulan Januari ini dan bisa diakses oleh siapapun di seluruh dunia lewat situs YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=G90lK6bdtgk. Bagaimana ceritanya Wenny mewujudkan idenya sampai menjadi kenyataan?

img-20161205-wa0006

Ide dan konsep untuk lagu Ini Ibu Budi muncul pada akhir tahun 2015 menjelang tanggal pengajuan disertasi S3 (doktoral) Wenny di University of Queensland. Tujuan Wenny dalam menciptakan lagunya tidak hanya untuk menghibur anak-anak Indonesia tetapi juga untuk mempromosikan pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia. Ungkapan “Ini Ibu Budi” yang dipilih oleh Wenny disumberkan dari  metode belajar Bahasa Indonesia yang dipopulerkan oleh Ibu Guru Siti Rahmani Rauf (Bunda Siti) di era 80-90 an. “Saat ingat bahwa sewaktu SD buku Ibu Budi sangat membantu saya dalam belajar membaca Bahasa Indonesia karena cara mengejanya mudah diikuti dan diingat. Almarhumah Bunda Siti meninggal pada Mei 2016 dan saya ingin memberikan penghargaan juga kepada beliau lewat lagu ini,” kata Wenny.

 “Saya dan suami melihat kurangnya hiburan khusus termasuk lagu untuk anak-anak di tanah air. Kami juga punya anak-anak yang nantinya akan membutuhkan hiburan yang pas untuk usianya serta memiliki muatan yang memotivasi dan membawa keceriaan,” tutur perempuan asal kota Malang ini. “Kami percaya lagu dan musik itu adalah bahasa universal karena pada dasarnya manusia itu menyukai lantunan nada-nada yang indah,” imbuhnya. Karena itu, dari rumahnya di Brisbane, Australia, sejak tahun 2014 Wenny dan Johan memulai membuat lagu-lagu khusus anak-anak dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sejauh ini, di sela-sela waktu, mereka sudah membuat sekitar tiga lagu anak, diantaranya adalah lagu Ini Ibu Budi.

12341548_10206906719940833_2731797475235106645_n

Wenny bersama dengan anak kembarnya, Sasya dan Wahyu di Australia

Mulai dengan merekam suara sendiri di HP ketika pulang kantor, di bis atau saat senggang, Wenny mencoba untuk mencari-cari nada yang sederhana, mudah diikuti dan diingat oleh semua kalangan khususnya anak-anak. Lagunya direkam bagian per bagian dan akhirnya disatukan pada pertengahan tahun 2016. “Berkat bantuan dan masukan dari suami saya, Johan yang juga senang bermain musik, maka aransemen lagu kombinasi keroncong dangdut dan musik tradisional dapat diselesaikan pada akhir tahun 2016,” kata Wenny. Lagu bahasa Indonesia ini bertepatan juga dengan perencanaan pembukaan Balai Bahasa Indonesia di Queensland. “Kami sangat berterimakasih atas dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia, Canberra dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Sydney” kata Wenny.

img-20161205-wa0010

Untuk konsep video klip, Wenny juga membuat bersama suami di waktu senggang. “Kami ingin memunculkan unsur tradisional dan budaya Indonesia yang mewakili dari Sabang sampai Merauke serta memberikan apresiasi kepada para musisi dan seniman termasuk penari tradisional,” jelasnya. Beberapa pelajar Bahasa Indonesia asal Australia dari University of Queensland juga ikut berpartispasi dalam rekaman suara dan syuting. Mereka diharapkan menjadi pionir dan juga sumber motivasi untuk pelajar asing dalam mempelajari Bahasa Indonesia.

Wenny tidak hanya dapat dukungan dari suami saja tetapi dari keluarga dan masyarakat dalam proses syuting dan produksi video klip, termasuk Gelora Indonesia, Pojok Indonesia, Sendok Garpu by Bunda Alicia untuk konsumsi, Ferny Grove State High School sebagai penyedia pakaian adat Indonesia dan The University of Queensland yang menyediakan lokasi syuting. “Total tim dan pendukung lagu dan video klip ini sekitar 65 orang. Jadi, ini adalah karya bersama kami semua,” jelasnya.

15326457_10209771686003194_8037838628924404713_n

Saat mengambil pakaian adat dari SMA Ferny Grove

Walaupun tidak mudah untuk mengurus banyak orang apalagi banyak anak-anak, menurut Wenny, kuncinya adalah perencanaan yang matang, komunikasi yang baik, kesabaran serta konsistensi untuk mencapai tujuan. “Saya menyadari semua teman-teman dan anak-anak juga super sibuk dengan berbagai urusan jadi untuk per-scene dan waktu harus dirancang dengan baik,” jelasnya. Pembagian tugasnya juga harus jelas termasuk harus ada plan B atau C misalnya karena mood anak-anak tidak stabil dan cuaca yang sangat panas. Jadi juga harus fleksibel serta pandai-pandai mengambil momentum,” imbuhnya.

img-20161205-wa0002Selain dari suaminya, musiknya juga didukung oleh unsur kendang dari Efiq Zulfiqar serta seruling Sunda dari Efendi Jaenudin. Penyanyi dan vokalis pendukungnya juga melibatkan cukup banyak orang termasuk Agustinus Timotius, Jane Ahlstrand, Rachmania Puspa Wardhani, Tri Mulyani Sunarharum, Annie Pohlman, Steph Pearson, Melanie Kilby, Sunarsedyono, dan Agustinus Yogiyono sebagai dalang. Video klip digarap oleh Sanjaya Tjhia dan melibatkan banyak model termasuk penari (Jane Ahlstrand, Tri Mulyani Sunarharum, Ruby Izzati & Keiloka Kirana Wahyudi), make-up artist (Esti Rahayu Sunarharum), anak-anak dan komunitas Indonesia di Brisbane.

Kameramen yang terlibat ada dua orang yaitu Sanjaya Tjhia (Jay) dan Johan Ramandias. Keduanya juga berpengalaman dalam membuat video klip/film dan video editingnya digarap oleh Jay. “Saya sangat berterimakasih kepada Jay yang dapat mengerjakan video klip ini dalam waktu yang sangat terbatas, dan juga tentunya sangat berterimakasih kepada keluarga, teman-teman serta semua pihak yang turut berpartisipasi” kata Wenny.

img-20161205-wa0021

Soft launching dilakukan pada tanggal 4 Januari 2017 di kediaman warga Indonesia di Brisbane dan menerima respon yang sangat menjanjikan. Karena lagunya disembahkan untuk Balai Bahasa Indonesia, Queensland dan pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia, video diserahkan penuh kepada KBRI, Canberra dan KJRI, Sydney. “Semoga dapat bermanfaat untuk kegiatan promosi Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah di Australia dan mendukung Balai Bahasa Indonesia,” kata Wenny. “Ada beberapa sekolah di Australia yang juga sudah meminta video ini karena akan digunakan dalam perkenalan pelajaran Bahasa Indonesia kepada murid-murid di Australia,” imbuhnya. Wenny dan tim tentunya juga akan sangat bahagia sekali jika seandainya Bapak Presiden Jokowi melihat serta menikmati lagu dan video klip Ini Ibu Budi.

Menurut Wenny, “Bahasa Indonesia adalah Bahasa nasional yang digunakan untuk mempersatukan bangsa Indonesia dari berbagai suku bangsa. Mempelajari Bahasa dari suatu negara adalah salah satu upaya untuk menghargai bangsa dari negara tersebut. Saya percaya bahwa saling mempelajari Bahasa dan budaya dari berbagai negara adalah jembatan yang dapat mempererat hubungan serta komunikasi antar bangsa, termasuk antara Indonesia dan Australia.”

 

Ternyata, Wayang Kulit Juga Digemari Rakyat Australia

15780908_10155770020322575_8617545914975231093_nWalaupun sudah tinggal di Australia lebih dari 10 tahun, niat Agustinus Jogiono untuk melestarikan budaya Indonesia di luar negeri tidak pernah habis. Pada akhir tahun 2016, pria asal kota Jogjakarta itu memberanikan diri untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat Australia dalam bentuk pentas wayang kulit perdana di Woodford Folk Festival, salah satu festival kebudayaan rakyat terbesar di Australia. Ternyata, minat masyarakat Australia terhadap seni tradisional Jawa ini cukup tinggi sampai pertunjukan wayang kulit di Woodford dikerumuni para penonton. Bagaimana proses persiapan dan pengalaman saat Agustinus membawakan pentas seni budaya Indonesia di Australia?

Dengan giat sendiri, Agustinus mulai proses persiapan dengan mengumpulkan koleksi wayang terbuat dari kardus yang dia beli dulu di Jogjakarta sambil membentuk sebuah cerita yang akan dibawakan. “Cerita atau lakon yang saya pilih bersumber dari cerita Ramayana,” kata Agustinus yang akrab disapa Yogi. Karena itu, untuk melengkapi koleksinya yang masih cukup sederhana, Yogi harus membuat dan melukis sendiri beberapa tokoh wayang tambahan termasuk Dewi Sinta, Jatayu, dan Sarpakenaka. Tidak berhenti di situ, Yogi juga membuat peralatan busur panah dan anak panahnya, pedang, gunungan dan bahkan bingkai untuk menggantung kain geber.

Untuk musik pengiring pertunjukannya, Yogi berkolaborasi dengan dua seniman Indonesia asal Sunda yang tinggal di Australia, yaitu Efiq Zulfiqar dan Efendi Jaenudin. “Musik atau gamelan yang mengiringi memang bercorak musik Sunda dengan menggunakan siter, rebab, kendang, gong, saron, dan seruling,” kata Yogi. “Cukup Indah perpaduan music Sunda dan pewayangan gaya Jawa-Jogjakarta. Berkolaborasi dengan seniman lain sangat menyenangkan karena satu sama lain mau belajar dan mengajari,” imbuhnya.

15826769_10155770017662575_5113941832421333830_n

Setelah latihan berbulan-bulan, akhirnya mereka memulai perjalanan ke Woodford. Woodford Folk Festival merupakan salah satu tempat bagi para seniman, musisi dan penari untuk berbagi beberapa jenis kesenian dengan para penonton dari berbagai latar belakang dalam beberapa tatacara. “Pengunjung yang hadir bisa untuk mengeksplore semua kegiatan yang ada seperti seni, kuliner serta cinderamata,” kata Yogi. “Yang hadir adalah orang-orang lokal maupun internasional yang datang untuk melihat dan menikmati kegiatan yang ada,” imbuhnya.

Di sana, pentas wayang kulit bernuasa Sunda itu ternyata diterima baik oleh para penonton. “Pengalaman pentas pertama sangat menyenangkan. Kami pentas tiga kali dalam tiga hari yaitu tanggal 28, 29 dan 30 Desember dengan durasi pentas 30-45 menit,” jelasnya. Menurut Yogi, respon dari penonton sangat bagus dan antusias. “Hal itu bisa diketahui sebelum pertunjukan mulai. Kursi sudah terisi penuh. Para penonton bertanya dan mendekat untuk melihat secara detail apa itu wayang, bentuk dan warnanya,” jelasnya.

Menurut Yogi, tujuannya dalam pentas wayang kulit adalah untuk melestarikan budaya Indonesia di luar negeri sambil menghibur orang lain. “Sumber motivasi saya berasal dari kesenangan untuk berkesenian. Saya senang karena bisa mempromosikan media wayang. Apalagi di Brisbane, selama tinggal di sini jarang kami bisa melihat pertunjukan wayang,” katanya. “Saya harap seni budaya Indonesia, khususnya dalam hal ini Jawa bisa dikenal oleh masyarakat luas di Australia,” imbuhnya.

Walaupun Yogi tidak pernah belajar seni pedalangan secara akademik, karena sejak kecil sudah senang melihat wayang, bisa mulai menangkap dasar dan pengetahuan dari situ. “Selalu ada rasa senang d­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­an tertarik kalau melihat pertunjukan wayang. Nah, disitu saya belajar!” kata Yogi. “Kebetulan dimana saya bekerja, ada bangunan yang dinamai Balai Budaya, disitu ada seperangkat gamelan dan wayang yang bisa untuk berlatih,” imbuhnya.