Menarik Hati Wisatawan Australia dengan Gamelan Jegog

Semenjak tahun 1970an, liburan ke pulau Bali sudah menjadi gaya hidup untuk sebagaian besar warga Australia. Namun, sampai sekarang tempat yang kerap dikunjungi oleh wisatawan Australia hanya terkonsentrasi di bagaian selatan, termasuk Pantai Kuta, Seminyak, dan Nusa Dua. Ternyata, di luar kawasan ini ada banyak daerah lain yang juga layak dikunjungi. Akhir-akhir ini, gerakan “Pariwisata Berbasis Budaya” merupakan salah satu strategi untuk “menggoda” wisatawan keluar dari zona nyaman, dan sekaligus memperluas kreativitas masyarakat Bali.  Menurut Adi Hartawan, seorang seniman muda yang telah berhasil menjalankan program pariwisata berbasis seni budaya di Kabupaten Jembrana, gerakan pariwisata ini dapat membuahkan hasil positif untuk masyarakat lokal serta wisatawan Australia.

18671665_297175770709641_8157297762214245084_o

Wisatawan asing sedang bermain jegog di Sanggar Adi Gama, Kabupaten Jembrana

Pada tahun 2015 Adi bersama dengan bapak I Wayan Gama Astawa mendirikan sebuah sanggar seni karawitan dan tari Bali khas Jembrana yang diberi nama Sanggar Adi Gama. Sedikit demi sedikit, mereka membuat sebuah program khusus untuk wisatawan asing yang ingin mengetahui lebih dalam tentang musik khas daerah Kabupaten Jembrana. Terletak di ujung barat pulau Bali, Kabupaten Jembrana memiliki berbagai macam kebudayaan dan kesenian yang sangat berbeda dengan kabupaten lain di Bali. Perbedaan ini justru memberikan nuansa yang khas sehingga Jembrana memiliki jati diri sendiri.

adi hartawan

I Wayan Gama Astawa dan I Made Dwi Adi Hartawan

Jegog merupakan sebuah alat music terbuat dari bahan dasar bamboo yang menghasilkan suara sangat merdu dan menawan hati. Menurut Profesor I Nyoman Darma Putra dari Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Udayana, perkembangan industri pariwisata di Jembrana berhubungan dengan erat dengan kesenian jegog. “Jegog dan pariwisata berhubungan secara resiprokal,” kata Prof. Darma. “Artinya, jegog lestari dan tumbuh semarak karena pariwisata, pada saat yang sama, pariwisata mendapat jenis hiburan baru dari seni tabuh dan tari berbasis jegog,” imbuhnya. Gamelan jegog memang merupakan identitas Kabupaten Jembrana samapi banyak wisatawan asing tertarik untuk mempelajari musik jegog ini.

Proses memperkenalkan musik jegog kepada orang asing justru bukan hal yang mudah dan perlu teknik pengajaran khusus yang sangat rinci dan teliti. “Yang paling utama sebagai guru itu kita harus bersabar untuk mengajar orang yang sama sekali belum pernah memainkan instrumen gamelan,” kata Adi. “Pertama-tama saya memberikan definisi tentang gamelan jegog kepada mereka, kemudian saya menceritakan sedikit pengalaman saya tentang awal mula mempelajari gamelan ini, supaya mereka lebih tertarik dan nyaman saat berhadapan dengan media jegog,” imbuhnya.

Dengan tekun, Adi kemudian memberikan teknik cara memegang panggul, dilanjutkan dengan pengenalan nada dan teknik pukul dari instrumen satu ke yang lainnya. Akhirnya, muridnya diberikan tabuh atau lagu yang paling mudah supaya bisa menikmati proses penuangan musik dengan jegog. “Selain teknik, guru juga harus memperhatikan respon dari murid supaya mereka tidak bosan. Saya selalu mengatur waktu untuk istirahat dan untuk belajar, karena jika terus hanya diberikan pelajaran saja, pasti mereka akan jenuh atau kehilangan konsentrasi,” ujarnya. “Maka dari itu, saya harus mengajak mereka membuat canda tawa seperti quiz dan geguyonan agar mereka relax sebelum mempelajari bagaian berikutnya hingga selesai. Saya juga mengajak mereka untuk mengunjungi tempat wisata seperti air terjun, persawahan, sungai, dan bukit di sekitar sanggar,” imbuhnya.

18299572_767903563383889_2548122187395497984_n

Adi bersama muridnya

Menurut Adi, proses pertukaran ilmu ini juga membantu menjalin hubungan antar bangsa yang lebih erat. “Karena saya tidak hanya memberikan ilmu tentang musik tetapi juga tentang budaya saya. Dari murid saya, saya juga mendapatkan informasi tentang budaya yang mereka miliki,” kata Adi. “Wisatawan yang datang ke sanggar saya merasa sangat bahagia dan nyaman di sini sampai saat mereka harus pulang, mereka bersedih karena ingin tetap tinggal di hutan di sini,” imbuhnya.

18444304_447093818969765_7954589026319597568_n

Kabupaten Jembrana masih memiliki kekayaan alam

Untuk kedepannya, Adi ingin masyarakat di Jembrana bisa hidup layak dari kegiatan berkesenian. “Saya ingin kesenian daerah seperti seni jegog Jembrana bisa lebih dikenal sampai ke manca negara, termasuk Australia.  Saya berharap supaya warga negara asing yang berkunjung ke Bali tidak hanya bermain ke Kuta atau Nusa Dua tetapi juga berkunjung ke Jembrana, khususnya ke Sanggar Adi Gama,” kata Adi. Kabupaten Jembrana memang memiliki pontensi alam yang belum disentuh oleh perkembangan industri besar pada masa kini. “Kekayaan alam yang dimiliki oleh kabupaten ini memberikan peluang kepada masyarakatnya untuk memanfaatkan kekayaan ini secara baik dan berguna,” kata Adi.

The Gameladies

Combining traditional Indonesian musical instruments with contemporary Western songs, The Gameladies are encompassing transculturalism to the fullest. The Gameladies is a 6-lady (though they are known to “occasionally rope in David Kotlowy, our guest ‘Gamelad’” says Abby, one of the ladies) Gamelan band that has ‘organically’ formed through their connections to the Indonesian community and another community gamelan group, Sekar Laras. The core members are Simone Bignall, an Indigenous Studies academic and avid piano player; Emily Collins, an ethnomusicologist who studied gamelan in Indonesia; Margret Eusope, an Indonesian teacher; Trina Lucas, a film maker who has long family involvement in gamelan and Indonesian Studies in South Australia; Hannah Tunstill, a classically trained bassoonist whose family is strongly involved in gamelan; and Abby Witts, a languages specialist who has studied jazz drumming. The Gameladies are taking the Adelaide multicultural community by storm with their ingenious and unique Gamelan style. I got in touch with one of the Gameladies, Abby, to discuss this unique collective.

 

Prospect Gallery - Intersection - INDOfest 2015

Some of the Gameladies in action, from left to right; Trina Lucas (saron barung), Emily Collins (kendhang), Abby Witts (saron demung) and Simone Bignall (gong) (Image Source: John Nieddu)

 

Gamelan is a traditional form of music originating from Java and Bali, though it is now played throughout Indonesia. It is comprised predominately of percussive style instruments, such as the kendang, gong and saron, however the exact instruments in any single ensemble are generally regionally specific. The Gameladies play on a bronze set originating from Surakarta that is, incredibly, more than 100-years old.

The Gameladies have a wide-ranging level of experience playing gamelan, from Hannah who has played since a child to Simone who has only recently become involved in the scene. Despite all their variety of professions, the Gameladies all share a common interest in and passion for music and Indonesia and met through the Indonesian community in Adelaide. Abby says it’s their love for “challenging musical idioms, and just the enjoyment of playing music together” that motivates them to keep playing. The Gameladies draw on their individual skills and different experiences playing other instruments and music genres, to allow them to alternate between instruments depending on the song.

Traditional gamelan music uses complex cross rhythms, time signatures and interlocking parts that are rarely heard in contemporary pop music that can be quite confusing and difficult to master. However, The Gameladies further challenge themselves by playing contemporary and pop music poses a number of challenges. The Gameladies have a wide repertoire, ranging from traditional pieces from across the Archipelago through to contemporary songs, from the likes of David Bowe to Lady Gaga. The ladies use their musical skills to collaborate and adapt contemporary songs into music that can be played on the gamelan. This is quite challenging as the gamelan is constricted to a five-note scale, which necessitates the Gameladies to adapt the chromatic scale of pop songs to conform to the limitations of the Gamelan. Fortunately the Gameladies strong and diverse musical background allows them to overcome these challenges to create great fusion pieces. However, in the words of Abby, “sometimes the audience will be able to place the tune, but for others, hearing a pop song played on gamelan is so out of context that it is assumed that we are playing obscure traditionals.” After watching a number of videos of the Gameladies, I have no doubt the audience is suitably enamoured by the Gameladeis skills and music, regardless of whether or not they were savvy enough to pick up on the contemporary renditions.

You can catch the Gameladies performing across Adelaide at a number of cultural festivals, such as OzAsia and Indofest, as well as at functions in the Indonesian community and also at weddings. Although the Gamelaides currently almost exclusively perform at cultural events and for the Indonesian community in Adelaide, they believe that their unique and progressive style will allow them to expand their reach to more mainstream venues and audiences.

To keep up-to-date with The Gameladies (or to even book them for your wedding) check out their Facebook page: www.facebook.com/thegameladies/

Peneliti Indonesia dan Cerita Cintanya dari Kota Brisbane

FB_IMG_1500214975343Di sela-sela menulis disertasi di University of Queensland, Temi Pratomo, seorang mahasiswa Strata 3 asal Indonesia telah berhasil menulis bukan satu tetapi dua buah novel yang terinspirasi oleh kehidupannya di Brisbane, ibu kota wilayah Queensland, Australia.  Dua novel ini yang berjudul “Cerita Cinta Dari Brisbane” dan “From Brisbane with Love” merupakan kumpulan kisah cinta yang berbuah dari imajinasi Temi saat di Brisbane sambil belajar di kampus University of Queensland (UQ). Menulis novel sambil mengerjakan disertasi justru bukan hal yang mudah, apalagi jika sedang menjalankan hidup sebagai mahasiswa di rantau. Bagaimana Temi dapat mencari inspirasi untuk berkarya sambil menghadapi tantangan kuliah di Australia?

Niat Temi untuk menulis memang sudah ada semenjak duduk di bangku SMP, tetapi sempat “mati suri” cukup lama sebelum kembali lagi ketika kuliah S2 di Norwegia. Sekarang, semenjak tinggal di Australia, hobi Temi untuk menulis “menjadi menggila.”  Dengan suasana tenang dan tertib dan gedung-gedung yang bergaya klasik, kampus UQ menjadi sumber inspirasi untuk Temi. “Ya, kondisi UQ yang memang seperti kampus impian, membuat inspirasi itu terus menerus keluar,” kata perempuan peneliti LIPI itu. Meskipun semua tokoh dalam ceritanya merupakan fiksi belaka, memang terkadang juga ada beberapa teman yang menjadi inspirasi untuk menciptakan sebuah tokoh dalam ceritanya. “Tetapi yang tentunya saya modifikasi,” kata Temi.

FB_IMG_1500245803757

 Walaupun fokus utama Temi di Brisbane memang untuk kuliah di bidang Earth and Environmental Science, menulis novel justru menjadi obat jenuh dalam menghadapi disertasi yang sangat penuh tantangan. “Semakin saya stress karena disertasi, semakin kuat keingianan saya untuk menulis novel.  Lucu ya?”  ujar Temi.   Menulis novel disela-sela menulis disertasi memang tidak mudah. “Saya butuh waktu satu setengah tahun untuk mengumpulkan kelima cerita yang tertuang dalam dua buku tersebut,” imbuhnya.

Secara independen, Temi telah berhasil menelurkan dua kumpulan cerita itu dalam bentuk novel. “Pertama-tama semua tulisan itu diupload di blog pribadi saya untuk mendapatkan feedback dari pembaca dan juga melihat respon ‘pasar’ sebelum isinya diperbaiki,” kata Temi. Pada suatu hari di kampus di UQ, sebuah pertemuan dengan teman kuliah membuat Temi termotivasi untuk mempublikasikan cerita-ceritanya secara independen. “Saya bertanya bagaimana caranya dia mempublikasikan puisi-puisi karyanya.  Ternyata dia melakukan secara indipenden dan suaminya yang menjadi penerbitnya.”

Sampai saat ini, respon dari pembaca cukup bagus. “Target saya adalah teman-teman alumni UQ, karena tujuan saya menulis adalah memberikan suvernir kepada mereka, sesuatu yang mampu membuat mereka selalu mengingat UQ dan Brisbane pada umumnya,” kata Temi. Buku pertama sudah habis 170 eksemplar dan buku kedua yang baru diterbit masih tinggal beberapa buah.

Untuk ke depannya, Temi sangat mengharapkan cerita-ceritanya bisa dipublikasikan oleh penerbit resmi. “Walaupun saya tahu saya harus kerja keras untuk itu. Masih banyak sekali yang harus saya perbaiki,” kata Temi. Temi juga menyarankan penulis-penulis lainnya yang masih malu-malu untuk tidak pernah takut gagal. “Karena gagal itu hal yang biasa yang pasti akan dihadapi.” Dengan mengutip film Indonesia berjudul, Stay with me oleh Rudi Soedjarwo, Temi menekankan bahwa “Sebuah karya nggak seharusnya hanya tersimpan di lemari.”