Kisah Seniman Suryani: Menjelajahi Gurun Australia Melalui Misi Kesenian

Setiap seniman mengalami proses perkembangan masing-masing. Ada yang sejak lahir sudah tahu bahwa dirinya akan menjadi seniman, biasanya berkat darah seni yang mengalir dari orang tuanya. Juga ada yang awalnya belum menyadari bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk berseni, dan hanya kemudian pada usia dewasa mereka baru mengenal kemampuan itu. Untuk Nanik Suryani, yang sudah terbiasa menjalankan hidup sebagai seorang pegawai kantor, satu demi satu dia mulai menyadari bahwa hatinya memiliki dunia seni, bukan dunia perkantoran. Sekarang pelukis asal Banyuwangi ini sangat aktif berkarya sampai dipilih untuk turut serta dalam Bali Artists’ Camp 2015 dan 2016 yang diadakan di Northern Territory, Australia dan kemudian di Karangasem, Bali.IMG_9653

Mulai pada tahun 2006, Suryani menjalani proses pembelajaran melukis sendiri di rumah. Setelah membaca buku berjudul, Everyone Can Draw, niat Suryani untuk menjadi pelukis semakin meningkat. Apa lagi dengan hidup di Bali dalam lingkungan kesenian, olah kreativitasnya justru tumbuh dan berkembang dengan subur.  “Akhirnya saya mengadakan solo exhibition pertama di Ginger Moon Restaurant di Seminyak, Bali pada tahun 2013,” katanya. Seiring berjalannya waktu, diri dan lukisannya semakin terikat. “Awalnya saya masih bertahan kerja kantoran tetapi dengan melihat potensi saya dalam dunia kesenian, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor dan fokus kepada melukis saja,” imbuhnya.

Bali Artists’ Camp yang diadakan di daerah gurun Northern Territory, Australia pada tahun 2015 merupakan suatu pengalaman yang luar biasa untuk Suryani. “Itu pertama kali saya ikut dalam kegiatan art camp seperti itu apalagi dengan melakukan camping di tengah hutan. Saya tidak hanya mendapat teman baru dari Australia dan Indonesia tetapi juga dengan melukiskan pemandangan baru dan belajar style baru dari pribumi Australia, hasil seni saya berubah dan berkembang,” ujarnya.

17757112_657661554421567_4628875691892641375_nPada Artists’ Camp 2016 yang diadakan di Bali, Suryani turut serta berkeliling Bali dengan para peserta lain mencari lokasi dan lingkungan yang inspiratif. Saat keliling Pura Dalem Segara Madu, Desa Jagaraja, Singaraja Suryani berkesempatan menemukan dua buah patung yang menarik perhatiannya dan memadukan dua patung yang sebenarnya terpisah itu dalam kanvas. “Dengan menggunakan style Consensusism, saya bermain dengan elemen bentuk, cahaya dan warna di kanvas,” katanya. “Saya juga terpengaruh oleh pengalaman saya waktu di Australia, saat saya belajar cara melukis langsung dengan seniman Aborigin. Sekarang saya bereksperimentasi dengan style lukisan Aborigin yang bercak bintik-bintik,” ujarnya sambil menunjuk detail lukisanya. Nanik Suryani telah membuktikan bahwa tidak ada kata “terlambat” dalam bidang kesenian. Dengan giat untuk terus berkembang, mencari inspirasi, dan bereksperimentasi, tidak ada batasan umur untuk bergerak di bidang seni.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s